SEJARAH DESA AGOTEY


MENYAMPAIKAN  SELAMAT ATAS  TERPILIHNYA

IBU. VIVIE  EVIE  PESIK, ST.

SEBAGAI  HUKUM  TUA  / KUNTUA DESA AGOTEY, Kec. Mandolang_Minahasa




 

Vivie  merupakan  kerabat  dan keturunan  dari  keluarga  besar  Pesik-Palar  dari  desa  Wiau-Lapi kecamatan  Tareran.

Mesi  kini  tidak  banyak  lagi  orang  Wiau  Lapi yang  tahu  keberadaan  mereka  di  Desa  Agotey tetapi  kebanggaan  keluarga  di  desa  Wiau  Lapi  tetap  ada. 

Salah  satu  leluhur dari  Ibu.  Evie  berama   Mr. J. Palar  adalah  Sarjana  Hukum  pertama  di  Tareran  yang  menyelesaikan  studinya  sebagai  Meester in de  Reechten sejak  akhir  tahu 1800.

Vivie Evie Pesik, ST : Terpilih sebagai Hukum Tua dalam Pemilihan Hukum Tua (Pilhut) serentak yang digelar pada Juni 2026. Teropongsulut.com, Minahasa – Pemilihan Hukum Tua (Pilhut) Desa Agotey, Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, yang dilaksanakan pada Rabu (17/6/2026), berlangsung aman, tertib, dan lancar. Proses pemungutan hingga penghitungan suara berjalan kondusif dengan pengawalan panitia penyelenggara serta aparat keamanan. Antusiasme masyarakat terlihat sejak pagi hari dengan datang ke tempat pemungutan suara untuk menggunakan hak pilih mereka.Berdasarkan hasil penghitungan suara, calon Hukum Tua nomor urut 2, Vivie Evie Pesik, ST (VEP), berhasil meraih kemenangan dengan perolehan 348 suara. Kemenangan tersebut disambut sukacita oleh keluarga, tim pendukung, serta masyarakat yang hadir dan mengikuti jalannya penghitungan suara hingga selesai.

 

SILSILAH   Mr. .Johan  Palar
Opa Mr.
Johan Palar menikah dengan Dina Muaya ( Mr. Palar adalah Guru, juga seorang Sarjana Hukum Belanda ) memperanakan ;
1. Junus Palar ( Kel. Palar
-Sinaulan / Oma palar)
2. Portinatus Palar (
di Palu)
3. Julius Palar (
kel.  Palar- Soputan)
4. Mentji Palar (Mamesah
- Palar)
5. Kato Palar Suaminya
bermarga Wawo (orang Tondangow) memperanakan Yan Wawo. Yan memperanakan  Edi Wibowo
6. Willhelmina Palar (
Kel. Sinaulan - Palar )
Willhelmina menikah dengan  Johanis  Sinaulan, memperanakkan anak satu-satunya bernama Justintje  Sinaulan. Justintje  (oma Non)  menikah dengan Simon Petrus  Walukow.

 

SILSILAH  Mentji Palar

Mintje Palar bersuami Josephus Mamesah. ( Kel Mamesah Palar)  memperanakkan ;

1. Onna  Getruida Mamesah, suami Yahya Kalangi ( Kalangi Mamesah)

        Anak2 : Alo, Dina, Wem,     Yakub, Yohana, Jantje

2. Nyong Frets Mamesah, ( Mamesah Tuela - Pandelaki)

        Anak2: Agam, Buang, Polin, Ferry, Meity, Mike

3. Amelius Wentong Mamesah, istri Juliana Waney ( Kel Mamesah Waney)

       Anak2 : Sintje, Elsye, Aneke,     Debby, Abraham, Andri.

4. Intang Mamesah suami Alfrets Worotitjan ( Kel Worotitjan Mamesah)

        Anak2:  Nyong, Hengki

 

Anak  dari Kel. Palar-Rantung adalah ;

-      1. Eldat Palar  - Pesik

-      2. Oroh  Palar

-      3. Palar  di Jakarta

Turunan  dari kel.  Palar-Pesik

-      Noh  Palar (di  Bintauna)

-      Ani  (kel. Palar-Soputan)

-      Beret (kel. Palar  - Mapaliey)

-      Yahya  F.  Palar / alo (kel.Palar-Kalangi)

-      Marten (kel. Palar- Maun)

-      Dina (kel. Wahani-Palar)

-      Net (kel.Piri-Palar)

-      Yus (kel.Palar-Mokalu)

Mr. J. Palar
Sumber  Foto :  Willhelmina  Palar-Sinaulan ( istri dari Mantri  Junus Palar) _Tahun 1915
Koleksi  Museum  Apapuhang  Sangihe




 SEJARAH   SINGKAT   DESA   AGOTEY

Oleh  ; Alffian  Walukow

 

I.  Profil Geografis dan Aksesibilitas Desa

Desa Agotey merupakan salah satu wilayah administratif definitif yang terletak di Kecamatan Mandolang, Kabupaten Minahasa, Provinsi Sulawesi Utara, Indonesia. Secara struktur organisasi pemerintahan lokal, Desa Agotey terbagi ke dalam tiga satuan wilayah yang disebut Jaga. Masing-masing Jaga tersebut berada di bawah kepemimpinan dan pengawasan seorang Kepala Jaga yang dikenal dengan sebutan Pala, yang dalam menjalankan tugas-tugas administratif dan kemasyarakatannya dibantu oleh seorang wakil yang disebut Meweteng.

Secara geografis, Desa Agotey bertengger kokoh di kawasan dataran tinggi, tepatnya di kaki Gunung Tatawiran. Karena letak topografisnya yang berada di atas pegunungan, desa ini menyajikan karakteristik lanskap yang unik dan menantang. Untuk mencapai wilayah ini dari pusat perkotaan, perjalanan dapat diakses dari Kota Manado melalui titik keberangkatan Terminal Malalayang. Moda transportasi berupa angkutan umum tersedia bagi masyarakat dengan estimasi waktu tempuh berkisar antara 45 hingga 60 menit.

Rute perjalanan menuju Agotey terbagi menjadi dua lanskap utama yang kontras namun saling berkesinambungan. Setengah perjalanan pertama akan menyusuri sepanjang garis Pantai Malalayang, yang sekaligus menandai perbatasan administratif antara Kota Manado dan Kabupaten Minahasa. Memasuki setengah perjalanan berikutnya, medan jalan berubah menjadi tanjakan-tanjakan pegunungan yang curam dan berliku, mengiringi para pelintas hingga sampai ke gerbang desa. Salah satu titik paling ikonik dalam jalur lintasan ini adalah sebuah tempat yang dinamakan Tetempangan. Ketika berada di Tetempangan, posisi ketinggian yang strategis memungkinkan siapapun menyaksikan panorama alam ganda yang memukau di bawahnya, yakni hamparan luas pesisir pantai beserta pemukiman Desa Mokupa di satu sisi, serta garis Pantai Malalayang dan lanskap Kota Manado yang membentang di kejauhan pada sisi lainnya.

 

II.  Asal-Usul, Legenda, dan Cikal Bakal Desa

Narasi lisan yang diwariskan secara turun-temurun menyebutkan bahwa asal mula penduduk asli Desa Agotey berasal dari sekelompok komunitas petani tradisional Minahasa yang menerapkan sistem ladang berpindah (nomaden agraris). Seiring berjalannya waktu, tuntutan hidup dan kebutuhan akan stabilitas mendorong para petani ini untuk mencari sebuah lahan yang menetap dan layak guna dijadikan tempat pemukiman tetap atau perkampungan baru yang aman.

Pada mulanya, rombongan petani tersebut membuka lahan dan bermukim di sebuah tempat yang mereka namakan Aga. Penamaan tempat ini diambil dari nama sejenis pohon lokal, yakni Pohon Aga, yang tumbuh sangat lebat dan mendominasi kawasan tersebut. Namun, selama tinggal di pemukiman Aga, komunitas ini menghadapi kendala krusial berupa kesulitan akses terhadap sumber air bersih yang memadai untuk menopang kehidupan sehari-hari.


Didorong oleh kebutuhan mendasar tersebut, mereka kembali melakukan pengembaraan dan eksplorasi ke wilayah sekitarnya demi menemukan sumber kehidupan yang baru. Pencarian mereka akhirnya membuahkan hasil ketika mereka menemukan sebuah kawasan yang memiliki sumber mata air yang sangat melimpah. Atas kekayaan alam yang menakjubkan tersebut, para tetua dan anggota kelompok secara spontan berseru: "Arotetey!", yang dalam bahasa lokal mengandung arti "menakjubkan". Kata "Arotetey" inilah yang kemudian berasimilasi secara fonetis seiring waktu menjadi kata Agotey, yang hingga kini diabadikan sebagai nama desa. Sementara itu, sumber air melimpah yang mereka temukan tersebut dikembangkan menjadi sebuah pancuran air alami yang dikenal dengan nama Pancuran Sembilan, atau dalam nomenklatur bahasa daerah Tombulu disebut sebagai Sarongsong Siou.


POHON  AGA





 

III.  Dokumentasi Sejarah Kolonial dan Perkembangan Desa (1894–1911)

Lembaran arsip kolonial dari akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 membuka kembali tabir sejarah formal mengenai pemukiman di pesisir bukit Minahasa ini. Melalui catatan berkala perkumpulan misionaris Belanda, Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap (MNZG), serta dokumen resmi Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië yang terbit tanpa putus setiap tahun, wilayah Agotey (dalam ejaan lama ditulis: Agotei) terekam secara berkala sebagai salah satu titik penting dalam peta perluasan pendidikan, administrasi kolonial, dan kontestasi keagamaan di tanah Minahasa. Perkembangan periodik desa ini dapat dirinci sebagai berikut:

1.  Awal Mula dan Tantangan Pendidikan (1894–1897)

Kisah formal persekolahan di Agotey dimulai sekitar tahun 1894. Berdasarkan laporan MNZG Jilid 38 (1894), lembaga zending (misi penginjilan Protestan Belanda) secara resmi mengintegrasikan wilayah ini dengan membuka Sekolah Nomor 111. Kehadiran institusi pendidikan ini menjadi simbol awal masuknya literasi modern bagi masyarakat setempat, yang kemudian terus dipantau secara berkala sebagaimana dilaporkan dalam MNZG Jilid 39 (1895).

Namun, mengelola institusi pendidikan di pedalaman Minahasa kala itu dihadapkan pada tantangan logistik dan sumber daya yang berat. Dokumen persekolahan kolonial mencatat bahwa posisi guru di Sekolah Agotey sempat dinyatakan "Vacant" atau kosong dalam beberapa waktu. Akibat ketiadaan tenaga pendidik yang menetap, aktivitas belajar-mengajar sempat mengalami kefakuman, yang ditandai dengan nihilnya angka statistik murid pada periode tersebut. Meskipun demikian, sekolah ini tetap berada di bawah pengawasan ketat tokoh pendidik zending terkemuka, Nicolaas Graafland, yang mengoordinasikan belasan sekolah di klaster distrik Kakaskasen dan Tombariri. Peta pelayanan dalam laporan MNZG tahun 1896 dan 1897 secara konsisten menempatkan Agotey dalam satu jalur strategis bersama desa-desa tetangga seperti Koha, Koka, Kali, Tateli, dan Warembungan.

2.  Pengakuan Negara dan Episentrum Kontestasi Keagamaan (1896–1902)

Pentingnya posisi geografis dan eksistensi jemaat di Agotey semakin dipertegas oleh pengakuan resmi dari otoritas negara kolonial. Nama Agotey tercatat secara berkesinambungan dalam buku kerabat kerja pemerintah kolonial, Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië, untuk edisi tahun 1896, 1897, 1898, 1899, 1900, 1901, dan

1902.

 

Dalam dokumen resmi negara tersebut, Agotey dikelompokkan sebagai bagian dari wilayah pelayanan jemaat zending (Zendelinggemeente) Menado yang berbatasan dengan Tateli, Koha, Warembungan, Koka, Tinoor,


Kayawu, dan Kali. Menariknya, laporan resmi pemerintahan dari tahun 1896 hingga 1902 ini secara konsisten memberikan catatan khusus mengenai dinamika sosiologis-keagamaan dengan menyematkan label (R.C.) atau Roomsch-Katholiek pada wilayah induk Kakaskasen dan Warembungan di sekitarnya. Hal ini mengindikasikan bahwa secara geografis spiritual, Agotey berada tepat di episentrum persaingan pengaruh yang sangat ketat antara zending Protestan Belanda dan misi Katolik Roma yang kala itu tengah gencar melakukan ekspansi pelayanan di wilayah Kakaskasen.

3.  Restrukturisasi Wilayah dan Pertumbuhan Jemaat (1899–1907)

Memasuki pergantian abad ke-20, dokumen menunjukkan adanya dinamika restrukturisasi wilayah administrasi zending. Laporan MNZG Jilid 43 (1899), Jilid 44 (1900), dan Jilid 46 (1902) mencatat penataan kembali koordinasi desa. Nama Agotey dikonsolidasikan dalam klaster pelayanan bersama wilayah Kalasey, Malalayang, Senduk, Poopoh, Arakan-Kumu, dan Sondaken, yang melibatkan para pengajar kawakan seperti P. Palit dan O. Wongkar.

Di sisi lain, catatan Regerings-almanak edisi 1903, 1904, 1905, 1906, dan 1907 memperlihatkan perluasan hubungan sosiologis dan administratif Agotey. Desa ini mulai dikelompokkan secara administratif dan pelayanan dengan desa-desa lingkar dalam Minahasa lainnya seperti Rurukan, Toulean Kecil, Kembes, Eris, Sarongsong, Tilap, dan Kombi.

Puncak perkembangan jemaat terekam nyata pada laporan statistik MNZG Jilid 48 tahun 1904. Setelah sempat lama mengalami kekosongan guru, jemaat di Agotey kembali bergairah di bawah bimbingan Guru Injil pribumi (Inlandsch leeraar) bernama Th. Diën (yang dalam variasi dokumen lain ditulis sebagai Th. Ditut). Statistik tahun 1904 mencatat kemajuan penting jemaat Protestan di bawah asuhannya di wilayah pelayanan tersebut, di mana jemaat di Tateli mencapai 221 jiwa dan Koha mencapai 581 jiwa, sementara di Agotey sendiri tercatat secara resmi memiliki 94 jiwa jemaat/murid Protestan dengan angka pertumbuhan yang stabil.

4.  Potret Demografi dan Stabilitas Akhir (1905–1911)

Hingga dekade pertama abad ke-20, kondisi sosiologis masyarakat Agotey terdokumentasi sebagai komunitas yang sangat tenang, stabil, dan cenderung homogen. Dari total populasi yang kala itu tercatat berkisar antara 79 hingga 90-an jiwa, mayoritas mutlak penduduknya telah memeluk agama Kristen Protestan. Tercatat hanya tersisa 2 jiwa yang masih mempertahankan penganut kepercayaan tradisional atau agama suku setempat (sering disebut kelompok Alifuru). Laporan statistik juga menegaskan tidak adanya pergolakan sosial maupun peralihan keyakinan (overgangen) yang masif di desa ini, menandakan kemapanan tatanan sosial.

Dalam rentang tahun 1905 hingga 1911, nama Agotey secara berkesinambungan terus muncul dalam laporan tahunan zending (MNZG Jilid 49 hingga Jilid 55), beriringan dengan jajaran desa sekawasan seperti Tanawangko, Lolah, Lemoh, Koha, Tateli, Malalayang, Kalasey, Kinilow, Tinoor, dan Kayawu. Pada tahun 1911, koordinasi pelayanan di wilayah ini semakin diperkuat dengan integrasi bersama guru-guru pribumi dari distrik Romoon-Tombasian. Catatan historis lintas dekade ini menjadi bukti nyata bagaimana sebuah desa kecil seperti Agotey perlahan-lahan bertumbuh, melintasi tantangan zaman, dan memantapkan identitas kultural serta pendidikannya di tanah Minahasa.


IV. Peristiwa Kontemporer: Tragedi Kecelakaan Pesawat Skyvan PK-EAL (1986)

Dalam sejarah modern, wilayah geografis di sekitar Desa Agotey sempat menjadi sorotan publik nasional akibat sebuah peristiwa tragis yang terjadi pada bulan Oktober 1986. Sebuah kecelakaan udara hebat menimpa pesawat charter jenis Skyvan dengan kode registrasi PK-EAL milik maskapai PT East Indo Air Taxi. Pesawat tersebut disewa oleh PT Barito Timber untuk menunjang operasional dari PT Astra Internasional. Pesawat dilaporkan jatuh setelah menabrak kawasan perbukitan di Kecamatan Pineleng, dengan titik jatuh di dekat Desa Agotey, sebelah selatan Kota Manado. Seluruh penumpang dan kru yang berjumlah 13 orang dinyatakan tewas seketika di lokasi kejadian.

Peristiwa naas ini bermula ketika pesawat bertolak dari Bandara Mangole, Pulau Taliabu Utara, Maluku Utara, menuju destinasi akhir Bandara Sam Ratulangi, Manado, dan dijadwalkan mendarat pada sore hari sekitar pukul

15.30 WITA. Berdasarkan keterangan resmi dari otoritas penerbangan dan keamanan setempat, pilot sempat melakukan kontak terakhir dengan menara pengawas (ATC) Bandara Sam Ratulangi saat pesawat berada di ketinggian 6.000 kaki, serta menyatakan kesiapannya untuk melakukan prosedur pendaratan. Namun, pasca kontak tersebut, komunikasi tiba-tiba terputus total, dan pesawat lenyap dari pantauan radar.

Penyelidikan awal menduga kuat bahwa faktor cuaca ekstrem menjadi penyebab utama kecelakaan. Saat hendak melintasi jalur udara menuju Manado, pesawat diduga terjebak di dalam kepungan kabut asap tebal serta debu vulkanik yang pekat. Material vulkanik tersebut berasal dari Gunung Lokon yang letaknya berdekatan dengan Gunung Tatawiran. Sebagai catatan historis, Gunung Lokon pada masa itu memang dilaporkan sedang dalam fase aktif dan terus meletus sejak bulan Juli 1986. Jarak pandang yang memburuk secara drastis menyebabkan pilot kehilangan orientasi arah spasial (spatial disorientation) hingga akhirnya pesawat menabrak lereng gunung dan hancur berkeping-keping. Salah seorang anggota regu penolong, Henk Rori, mengungkapkan bahwa sayap kiri pesawat diduga sempat menyambar pohon pandan hutan sebelum akhirnya terhempas masuk ke dalam jurang yang curam.

Proses evakuasi korban berjalan sangat dramatis dan memilukan akibat hancurnya badan pesawat. Beberapa jenazah korban ditemukan dalam kondisi mengenaskan di sekitar lokasi jatuhnya pesawat, bahkan ada yang tersangkut di atas pepohonan tinggi dengan bagian tubuh yang terpisah. Setelah melalui operasi pencarian intensif selama lima hari berturut-turut, Tim SAR gabungan yang dibantu penuh oleh warga setempat akhirnya berhasil mengevakuasi seluruh 13 korban. Jenazah para korban, termasuk salah satu jasad penumpang wanita bernama Ny. Mariam Pangkey, langsung dibawa ke RS Gunung Wenang Manado melalui jalur darat via Desa Agotey.

Kepala Biro Humas Pemerintah Daerah, Brammy Mussu, S.H., menjelaskan bahwa medan di lokasi jatuh sangat berat, didominasi oleh tebing curam dan hutan rotan yang sangat lebat. Kendati demikian, berkat sinergi yang solid antara aparat TNI, Polri, serta masyarakat Desa Agotey dan Desa Koha, operasi kemanusiaan tersebut berhasil diselesaikan lebih cepat dari target. Pihak keluarga korban pun menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada Gubernur Sulawesi Utara beserta seluruh jajaran Pemda, aparat keamanan, dan warga desa yang telah memberikan perhatian besar serta bantuan logistik selama proses evakuasi berlangsung.

 

Kecelakaan  Pesawat  di  Desa  Agotey
Sumber foto  oleh ;  FB.  Prof.Dr. Denny  Pinontoan

V. Kajian Linguistik Komprehensif tentang Pohon Aga

Kajian ini mengurai eksistensi, kesalahan klasifikasi, serta variasi leksikal dari istilah Aga berdasarkan data komparatif kebahasaan (Sangir, Tountembouan, Tombulu) dan hubungannya dengan botani.


1.  Etimologi dan Variasi Leksikal Lintas Bahasa Suku

Kata Aga merupakan leksem yang merujuk pada entitas botani spesifik di wilayah Minahasa. Berdasarkan studi linguistik komparatif pada rumpun bahasa Filipina-Minahasa (di mana bahasa Sangir dan bahasa-bahasa Minahasa bernaung), ditemukan korespondensi fonetis yang konsisten pada bunyi konsonan hambat velar bersuara

/g/ dan frikatif glotal bersuara /h/ atau /ɣ/.

  Bahasa Sangir: Istilah Aga diserap atau sepadan dengan kata Aha atau Agha. Dalam Kamus Bahasa Sangir, lema ini diartikan secara leksikal sebagai sejenis pohon beringin liar (termasuk ke dalam Ficussoort atau jenis-jenis Ficus).

  Bahasa Tountembouan: Istilah ini dicatat secara fonetis sebagai Aga. Karakteristik ini berkerabat dengan bahasa Tnsawang yang menyebutnya Acha, serta bahasa Sangir yang menyebutnya Aha.

2.  Analisis Komparatif Morfologi Botani: Kekeliruan Leksikografi Kolonial

Terdapat inkonsistensi dan kesalahan identifikasi botani yang fatal dalam kamus kolonial kuno terkait Pohon Aga. Secara fisik-morfologis, masyarakat lokal sering menyaru Pohon Aga dengan beberapa jenis pohon lain karena kemiripan visual visualnya:

 

Nomenklatur / Istilah

Identifikasi Fisik & Karakteristik Daun

Karakteristik Buah

Klasifikasi Botani yang Benar

Pohon Aga (Lokal)

Memiliki bentuk daun yang sangat mirip dengan Ficus variegata.

Tidak berbuah. Karakteristik utama yang membedakannya dari jenis Ficus umum.

Sejenis beringin liar (Ficus soort) tanpa buah konsumsi.

Ficus Variegata

Bentuk daun mirip dengan Pohon Aga.

Berbuah lebat di sepanjang batang pohon (cauliflory).

Ficus variegata (Spesies valid).

Kamus Tountembouan (Kekeliruan Kolonial)

Dicatat secara keliru

sebagai pohon penghasil kayu komersial (de linggoa-boom).

-

Secara salah

mengklasifikasikannya sebagai Pterocarpus indicus (Pohon Angsana/Linggua).

 

Kamus Bahasa Tountembouan menyusun klasifikasi yang salah (false classification) dengan menyamakan pohon Aga dengan Pterocarpus indicus (di kenal sebagai kayu linggua atau angsana). Penyelidikan linguistik budaya menunjukkan bahwa pohon Aga lokal sesungguhnya adalah varietas beringin liar (Ficus) yang dicirikan oleh daunnya yang menyerupai Ficus variegata tetapi tidak menghasilkan buah. Kamus Tountembouan mencatat adanya dua varietas berdasarkan warna morfologis batang atau getah:

1.  Aga Kulo': Makna harfiah "Aga Putih" (dari kata Witte), mengacu pada varietas berbatang terang atau bergetah putih bersih.

2.  Aga Raindang: Makna harfiah "Aga Merah" (dari kata Roode Variety), mengacu pada varietas berbatang gelap atau bergetah kemerahan.


3.  Perluasan Semantis Leksem "Aga" dalam Kebudayaan

Selain merujuk pada ranah botani (nama pohon), leksem aga dalam bahasa Tountembouan mengalami perluasan makna (semantic extension) ke dalam ranah antropologi dan busana adat. Kemungkinan besar perluasan makna ini terjadi karena adanya kemiripan visual struktural antara bentuk bunga dari pohon tertentu dengan hiasan kepala, atau karena nilai historis perdagangan barter antarsuku. Berikut adalah bentuk-bentuk perluasan semantis dan konstruksi morfologis dari kata "Aga":

  Aga / Aaga (Nomina): Burung cendrawasih kering yang diawetkan, yang pada masa lampau digunakan oleh para bangsawan atau ksatria Minahasa sebagai hiasan megah di atas penutup kepala mereka. Nomenklatur ini disinyalir kuat diadopsi dari pengaruh interaksi dengan orang-orang Kesultanan Ternate (Ternatan) yang membawa komoditas burung cendrawasih melalui jalur perdagangan laut.

  Měaga (Verba Aktif): Tindakan memakai, mengenakan, atau menggunakan hiasan burung cendrawasih kering (aga) tersebut pada penutup kepala.

  Nimeaga (Nomina Persona/Verba Pasif Lampau): Merujuk pada status seseorang di masa lalu yang pernah atau berhak mengenakan hiasan aga pada penutup kepalanya (menandakan status sosial atau kehormatan tertentu).

  Maaga (Verba Transitif): Kegiatan memasang atau menyematkan hiasan aga pada penutup kepala. Contoh konstruksi kalimat sintaksis Tountembouan lama:

"Aku maaga am porongku" artinya: "Aku memasang aga pada penutup kepalaku".

  Paagaangku (Nomina Lokatif/Kepunyaan): Merujuk pada objek topi atau penutup kepala yang telah berhasil dipasangi hiasan tersebut. Contoh penerapan kalimat:

"Ěm porongku paagaangku" artinya: "Topiku yang kupasangi aga".

  Iaga (Partisipel / Alat): Sesuatu atau material yang diaplikasikan, dipilih, atau difungsikan secara khusus sebagai hiasan aga.


DAFTAR SUMBER REFERENSI HISTORIS DAN LINGUISTIK:

1.  Arsip Kolonial Hindia Belanda: Laporan Statistik Tahunan Persekolahan dan Demografi Agama Hindia Belanda di Minahasa (Dokumen Akhir Abad ke-19).

2.  Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië: Dokumen Resmi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, Edisi Tahunan: 1896, 1897, 1898, 1899, 1900, 1901, 1902, 1903, 1904, 1905, 1906, dan 1907 (Semua Deel 1: Perihal

Administrasi, Pendidikan, dan Kewilayahan).

3.  Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Misi Kolonial (MNZG): Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap: [bijdragen tot de kennis der zending en der taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië]:

  Jrg. 38 (1894) sampai dengan Jrg. 41 (1897)

  Jrg. 43 (1899), Jrg. 44 (1900), Jrg. 46 (1902), Jrg. 48 (1904)

  Jrg. 49 (1905) sampai dengan Jrg. 55 (1911)

 

4.  Kamus Bahasa Daerah: Kamus Bahasa Tountembouan (Lema: aga, aaga, měaga, maaga) & Kamus Bahasa Sangir (Lema: aha, agha, ficussoort).

5.  Arsip Kliping Pers Nasional/Lokal: Laporan Utama Peristiwa Kecelakaan Udara Pesawat Skyvan PK-EAL di Wilayah Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara (Edisi Cetak Independen, Oktober 1986).

1.  Arsip Kolonial Hindia Belanda: Laporan Statistik Tahunan Persekolahan dan Demografi Agama Hindia Belanda di Minahasa (Dokumen Akhir Abad ke-19).

2.  Regerings-almanak voor Nederlandsch-Indië: Dokumen Resmi Pemerintah Kolonial Hindia Belanda, Edisi Tahunan: 1896, 1897, 1898, 1899, 1900, 1901, 1902, 1903, 1904, 1905, 1906, dan 1907 (Semua Deel 1: Perihal

Administrasi, Pendidikan, dan Kewilayahan).

3.  Jurnal Ilmiah Kebahasaan dan Misi Kolonial (MNZG): Mededeelingen van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap: [bijdragen tot de kennis der zending en der taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië]:

  Jrg. 38 (1894) sampai dengan Jrg. 41 (1897)

  Jrg. 43 (1899), Jrg. 44 (1900), Jrg. 46 (1902), Jrg. 48 (1904)

  Jrg. 49 (1905) sampai dengan Jrg. 55 (1911)

 

4.  Kamus Bahasa Daerah: Kamus Bahasa Tountembouan (Lema: aga, aaga, měaga, maaga) & Kamus Bahasa Sangir (Lema: aha, agha, ficussoort).

5.  Arsip Kliping Pers Nasional/Lokal: Laporan Utama Peristiwa Kecelakaan Udara Pesawat Skyvan PK-EAL di Wilayah Pineleng, Minahasa, Sulawesi Utara (Edisi Cetak Independen, Oktober 1986).

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA

Hilangnnya Warisan Leluhur berusia 300 tahun : Tongkonan Ka'Pun Toraja