Diaspora NUSA UTARA : Frans Alfred Beslar
JEJAK
LANGKAH FRANS ALFRED BESLAR
Dari
Riak Gelombang Laut Tamako hingga Kabut
Sutra Tomohon
Disusun oleh :
Alffian W. P. Walukow
Frans
Beslar
Ada manusia yang dilahirkan untuk
mengarungi samudera luas, bukan hanya demi menantang kegarangan ombak,
melainkan untuk menjemput takdir terbaik yang telah digariskan oleh Sang
Pencipta. Dialah Frans Alfred Beslar, seorang lelaki berhati
baja, berjiwa ksatria, yang kisah hidupnya terukir indah di antara simfoni
nyanyian lautan Sangihe dan kedamaian kabut pegunungan Minahasa. Perjalanan
hidupnya adalah sebuah epos tentang ketangguhan, pengorbanan, dan cinta sejati
seorang ayah.
Kisah
legendaris Frans Alfred Beslar bermula di ujung utara jauh Nusantara, di sebuah
tempat yang sarat akan keindahan alam dan riwayat sejarah: Tamako, Kepulauan
Sangihe. Di tanah yang diberkati inilah, tepat di sebuah rumah yang berdiri
kokoh di dekat Jembatan Nagha-1, Frans dilahirkan pada tahun 1912.
Masa kecil Frans adalah sebuah
harmoni alam. Ia tumbuh dalam dekapan gemercik air sungai yang jernih, yang
mengalir tenang hingga bertemu dengan asinnya air laut yang bergelombang. Di
sela-sela pemandangan perahu-perahu nelayan yang bersandar pasrah di dermaga,
impian-impian besar mulai tumbuh di dalam kepala anak muda ini. Di tanah
kelahiran inilah, alam Sangihe menempa Frans menjadi sosok pemuda yang tegap
fisiknya, santun tutur katanya, dan penuh rasa percaya diri yang memancar dari
tatap matanya.
Tamako
bukan sekadar tempat lahir bagi Frans, melainkan tanah dengan akar sejarah yang
mendalam:
- Geografi
dan Botani Lokal:
Nama "Nagha" (yang diucapkan dengan lafal "Naha")
diambil dari nama sejenis pohon yang banyak tumbuh subur di Pulau Sangihe.
Pohon Nagha ini tidak lain adalah Pohon Angsana atau Linggua
(Pterocarpus indicus). Keindahan dan kekokohan pohon inilah yang
mengilhami penamaan sebuah kampung yang kini secara administratif terletak
di Kecamatan Tamako, Kabupaten Kepulauan Sangihe, Provinsi Sulawesi Utara.
Wilayah ini terbagi menjadi dua desa, yaitu Nagha I (tempat masa
kecil Frans) dan Nagha II.
- Akar
Sejarah Kerajaan:
Setelah tahun 1912, Tamako menjadi bagian utuh dari Kerajaan Manganitu.
Pada masa itu, Raja Willem Manuel Pandensolang Mokodompis
mendirikan istana megah di Tamako dan menjadikannya sebagai kerajaan
bawahan Manganitu. Tak lama berselang, ditempatkanlah adik iparnya yang
bernama Willem Kansil untuk menjadi Raja Manganitu-Tamako, yang
tercatat dalam sejarah sebagai raja kedua sekaligus yang terakhir.
- Gejolak
dan Kebanggaan Identitas:
Istana Manganitu tersebut sebenarnya masih berdiri kokoh di Tamako hingga
era 1980-an, sebelum akhirnya dibongkar dengan alasan resmi terkena dampak
pembangunan jalan. Namun, di balik pembongkaran itu, terdapat alasan
tersembunyi yang mengakar pada harga diri masyarakat. Orang Tamako secara
historis menganggap bahwa di Tamako tidak pernah ada kerajaan bawahan;
mereka enggan mengakui Manganitu sebagai kerajaan di tanah mereka. Hal ini
dikarenakan pada masa lalu, selama lebih dari 200 tahun, masyarakat Tamako
lebih memilih untuk tunduk dan setia kepada Kerajaan Siau.
Rumah Keluarga
Beslar di kampung Nagha, Tamako
Di tengah dinamika sejarah tanah
kelahirannya yang penuh harga diri itulah Frans dibesarkan. Namun, takdir juga
menorehkan duka di tanah ini. Ayah kandung dari Frans menghembuskan napas
terakhirnya dan dimakamkan dengan tenang di bumi Kampung Nagha-2.
Kehilangan ini menjadi salah satu pemicu bagi Frans untuk melangkah maju,
membawa nama besar keluarganya menyeberangi lautan demi masa depan yang lebih
cerah.
Foto para
pendeta dan pekerja
Injil di samping
depan gereja Tamakao
Pada Konfrensi Gereja
Protestan di Tamako
Sumber foto : Het Penningske: Maandblaadje,
uitgaande van de samenwerkende Zendings-Vereenigingen. (1939, Mei).
(No. 5).
Ketika usia
mendewasakannya, panggilan takdir membawa Frans meninggalkan riak gelombang
Tamako. Pada tahun 1939,
sebuah babak baru tertulis dalam catatan hidupnya. Frans memutuskan untuk
merantau ke jantung Kota Manado yang ramai dan penuh peluang.
Dengan modal keberanian dan
karakter yang kuat, Frans berhasil meraih pencapaian luar biasa pada masanya:
ia diterima bekerja di Wilhelmina Hotel. Hotel ini bukanlah tempat
sembarangan; pada era kolonial Hindia Belanda, Wilhelmina Hotel adalah
akomodasi paling berkelas, megah, mewah, dan paling terpandang di seluruh
jazirah utara Sulawesi.
Hotel Willhelmina
Manado
Hotel Wilhelmina Manado merupakan
salah satu jejak penting dalam sejarah perkembangan kota Manado pada masa
kolonial hingga Perang Dunia II. Kisahnya mencerminkan dinamika kekuasaan,
perubahan sosial, dan kehancuran akibat konflik global yang melanda Asia
Pasifik pada pertengahan abad ke-20.
Pada awal abad ke-20, hotel ini mulai
beroperasi di jantung kota Manado, tepat di kawasan strategis yang kini dikenal
sebagai Zero Point. Nama “Wilhelmina” disematkan sebagai bentuk penghormatan
kepada Ratu Wilhelmina dari Belanda, yang memerintah sejak tahun 1898. Sejak
awal berdirinya, bangunan ini menampilkan arsitektur megah bergaya Indische
Empire, dengan pilar-pilar tinggi, langit-langit yang lapang, serta beranda
luas yang dirancang untuk iklim tropis Hindia Belanda. Keberadaannya segera
menempatkan hotel ini sebagai salah satu simbol kemewahan dan modernitas
kolonial di wilayah Minahasa.
Memasuki periode 1920-an hingga
1930-an, Hotel Wilhelmina Manado berkembang menjadi pusat aktivitas sosial
kalangan elite. Para pejabat Hindia Belanda, saudagar kopra, serta pelancong
Eropa menjadikannya tempat singgah paling bergengsi di kota pelabuhan tersebut.
Lebih dari sekadar tempat menginap, hotel ini juga menjadi ruang pertemuan
sosial, ekonomi, dan politik di Manado, yang saat itu terus berkembang sebagai
kota kolonial penting di wilayah timur Nusantara.
Menjelang pecahnya Perang Dunia II,
khususnya sekitar tahun 1939 hingga awal 1942, suasana di hotel mulai berubah.
Meskipun nama Wilhelmina masih dipertahankan sebagai simbol legitimasi
kekuasaan kolonial Belanda, ketegangan geopolitik di kawasan Pasifik mulai
terasa. Aktivitas hotel yang sebelumnya didominasi wisatawan dan tamu sipil,
perlahan bergeser menjadi lebih militeristik. Beberapa ruang di dalam bangunan
tersebut bahkan digunakan untuk pertemuan darurat perwira Koninklijk
Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) dalam menyusun strategi pertahanan menghadapi
ancaman ekspansi Jepang dari utara Sulawesi.
Perubahan besar terjadi pada Januari
1942 ketika pasukan Jepang berhasil merebut Manado dalam operasi militer cepat.
Sejak saat itu, pemerintahan kolonial Belanda runtuh, dan seluruh aset
strategis diambil alih oleh militer Jepang. Nama-nama
Belanda dihapus dari ruang publik sebagai bagian dari kebijakan pendudukan.
Hotel Wilhelmina tidak luput dari perubahan ini; bangunan tersebut disita dan
dialihfungsikan menjadi fasilitas militer Jepang, baik sebagai markas komando
maupun asrama perwira. Dengan demikian, fungsi hotel sebagai pusat perhotelan sipil resmi
berakhir.
Memasuki periode 1944 hingga 1945,
Manado menjadi salah satu wilayah yang mengalami intensifikasi serangan udara
Sekutu dalam upaya melemahkan posisi militer Jepang di Sulawesi Utara. Kawasan
pusat kota, termasuk area Wenang dan Pasar 45, menjadi sasaran pemboman. Dalam
rentetan serangan tersebut, bangunan Hotel Wilhelmina mengalami kerusakan berat
akibat kebakaran dan ledakan, hingga akhirnya rata dengan tanah. Jejak fisiknya
lenyap, menyisakan hanya sisa reruntuhan yang kemudian terbengkalai selama
bertahun-tahun setelah Indonesia merdeka.
Baru
beberapa dekade kemudian, di atas lahan bersejarah tersebut berdiri bangunan
baru yang berfungsi sebagai Kawanua City Hotel yang diresmikan pada era
1970-an. Transformasi ini menandai perubahan wajah kota Manado dari ruang
kolonial menuju kota modern, meskipun memori tentang Hotel Wilhelmina tetap
menjadi bagian penting dari sejarah urban dan identitas kota hingga hari ini.
Bekerja
di hotel sekelas Wilhelmina menuntut standar yang sangat tinggi:
- Disiplin Tinggi dan Kerapian:
Frans harus selalu tampil prima, bersih, dan berwibawa.
- Tutur Kata yang Elok: Setiap
harinya, hotel ini menjadi tempat singgah bagi para pejabat tinggi
kolonial, bangsawan, dan pelancong internasional dari berbagai belahan
dunia.
Frans tidak
gentar. Ia justru membuktikan kelas dan kualitas dirinya sebagai anak
kepulauan. Dengan senyuman ramah yang tulus khas Sangihe, dikombinasikan dengan
kecakapan kerja yang luar biasa, Frans segera bertransformasi menjadi sosok
perantau yang sangat dihormati, disegani, dan dipercayai oleh manajemen hotel
maupun para tamu. Di lorong-lorong megah berarsitektur kolonial inilah,
kematangan hidup, mentalitas, dan kebijaksanaan seorang Frans Alfred Beslar
benar-benar terbentuk dan teruji.
Di tengah
hiruk-pikuk pelayanan dan kesibukannya di Wilhelmina Hotel Manado, Tuhan
merajut skenario terindah-Nya. Di
kota perantauan inilah, Frans dipertemukan dengan pelabuhan terakhir bagi
hatinya. Ia jatuh cinta pada seorang gadis yang memiliki kelembutan hati luar
biasa, seorang putri asli dari pedalaman Minahasa yang berasal dari Tomohon
dan bermarga Kaeng (yang kelak di kemudian hari dikenang dengan penuh
rasa hormat sebagai Oma Kaeng).
Frans Beslar,
Hotel Willhelmina Menado - 1939
Frans, yang sekian lama mengarungi
kerasnya ombak kehidupan dan dinginnya dunia perantauan, seketika luluh oleh ketenangan,
keteduhan, dan ketulusan yang dibawa oleh Oma Kaeng dalam hidupnya. Pertemuan
di kota Manado itu menumbuhkan benih-benih cinta yang begitu suci, tulus, dan
mendalam. Janji setia pun diucapkan, dan keduanya resmi diikat dalam sakramen
pernikahan yang kudus.
Setelah masa baktinya di Kota
Manado selesai, Frans mengambil sebuah keputusan besar yang membuktikan betapa
dalamnya rasa cintanya kepada sang istri. Ia meletakkan ego rantaunya dan
memilih untuk ikut menetap secara total di Tomohon, kota kelahiran
belahan jiwanya.
Di kota sejuk yang selalu didekap
oleh kabut tipis dan dikelilingi keindahan bunga-bunga inilah, Frans Alfred
Beslar membangun istana kecilnya yang penuh kedamaian. Ia melipat dayung
rantaunya, beralih peran sepenuhnya menjadi seorang kepala keluarga dan ayah
yang penuh kasih sayang. Di atas tanah Tomohon yang subur ini pula,
keturunannya lahir ke dunia, merajut generasi baru bermarga Beslar:
- Anak
Sulung (Laki-laki):
Lahir pada tahun 1940. Kini, ia telah menjadi sosok sepuh yang
dihormati di usianya yang menginjak 86 tahun, dan menjalani
hari-tua dengan damai di Desa Mekasili, Minahasa Selatan.
- Theresia
Beslar: Putri
keduanya yang lahir pada tanggal 1 April 1952. Seorang anak
perempuan yang mewarisi ketangguhan mental sang ayah, yang kelak membawa
dedikasi kemanusiaan hingga ke tanah Jawa.
- Frater
Willem Beslar, CMM:
Putra bungsunya yang lahir pada 31 Maret 1956 di Tomohon. Seorang
anak laki-laki yang memilih jalan sunyi namun suci untuk menyerahkan
hidupnya demi melayani Tuhan dan sesama.
Cinta Frans
pada pendidikan dan karakter luhur tercermin nyata dari jalan hidup yang
dipilih oleh anak-anaknya. Mereka tumbuh menjadi pribadi-pribadi yang berdampak
besar bagi masyarakat:
1.
Theresia Beslar: Sang Perawat dan Pengobat Tradisional yang Tangguh
Setelah menyelesaikan masa baktinya
di perantauan, Theresia kembali ke tanah kelahirannya di Tomohon dan
mendedikasikan hidupnya untuk menyembuhkan orang sakit di Walian, Tomohon. Kiprahnya diakui secara resmi oleh pemerintah melalui dokumen legalitas:
PEMERINTAH
KOTA TOMOHON - DINAS KESEHATAN DAN SOSIAL
SURAT
IZIN PENGOBAT TRADISIONAL (SIPT)
NOMOR:
01/DKS/IJIN-SIPT/VII/2016
Berdasarkan Keputusan Menteri
Kesehatan Republik Indonesia Nomor: 1076/Menkes/SK/VII/2003 tentang
Penyelenggaraan Pengobatan Tradisional, izin praktek resmi diberikan kepada:
·
Nama: THEERESIA BESLAR
·
Tempat/Tanggal
Lahir: Tomohon, 1
April 1952
·
Alamat: Kelurahan Walian Lingkungan III,
Kecamatan Tomohon Selatan
·
Jenis
Kelamin: Perempuan
·
Agama: Kristen Katolik
·
Kewarganegaraan: Indonesia
·
Pekerjaan: Perawat
·
Klasifikasi
Pengobat:
Klasifikasi A (Pengobat Tradisional Keterampilan)
·
Tempat
Praktek: Kelurahan
Walian Lingkungan III, Kecamatan Tomohon Selatan
Surat
izin ini dikeluarkan di Tomohon pada tanggal 27 Juli 2016,
ditandatangani dan dicap resmi oleh Kepala Dinas Kesehatan dan Sosial Kota
Tomohon, dr. Deesje V. Liuw, M.Biomed (Pembina Utama Muda, IV/c, NIP.
19610521 199011 2 001). Tembusan surat ini disampaikan kepada Menteri Kesehatan
R.I., Kepala Dinas Kesehatan Provinsi Sulawesi Utara, Kepala Puskesmas Lansot,
serta Organisasi Profesi terkait.
2. Frater Willem Beslar, CMM:
Pelayan Jiwa dan Pendidik Sejati
Putra bungsu
Frans, Frater Willem Beslar, memilih jalan hidup religius yang radikal.
Beliau adalah seorang biarawan Katolik dari Kongregasi Frater CMM (Congregatio
Fratrum Beatae Mariae Virginis Matris Misericordiae). Dedikasi hidupnya
diserahkan sepenuhnya untuk pelayanan pendidikan, pembentukan karakter, dan
spiritualitas generasi muda.
Berdasarkan
rekam jejak resmi dari situs Frater CMM, berikut adalah profil pelayanan suci
beliau:
Tugas
dan Profesi:
- Guru: Mengabdikan ilmu dan
teladan hidupnya dengan mengajar di SMP Frater Don Bosco Manado,
Sulawesi Utara.
- Konselor Sekolah:
Bertindak sebagai ayah spiritual yang mendampingi, membimbing, dan
membantu para siswa dalam menyelesaikan berbagai dinamika persoalan, baik
problem akademis di lingkungan sekolah maupun masalah pribadi yang mereka
hadapi di rumah.
Karakteristik
dan Fokus Pelayanan:
- Pendidikan Doa: Frater
Willem sangat aktif menanamkan kebiasaan rohani sejak dini. Beliau
melatih dan mendidik para siswa agar memahami cara berdoa yang baik,
termasuk menumbuhkan keberanian anak-anak untuk memimpin doa pagi dan doa
sore di sekolah.
- Spiritualitas Konseling: Dalam
menjalankan tugasnya sebagai konselor, beliau tidak pernah mengandalkan
logika semata. Frater Willem selalu mengawali setiap sesi bimbingan
bersama siswa dengan doa. Bagi beliau, doa adalah instrumen utama
sekaligus jawaban paling mutakhir dalam mencari jalan keluar bagi setiap
kemelut hidup.
- Motto Hidup: Dasar
dari seluruh pelayanan totalnya berakar pada Konstitusi Frater CMM
Pasal I, 29, yang menegaskan bahwa tugas utama dari hidup seorang
frater CMM adalah untuk melayani sesama manusia. Beliau memaknai doa
bukan sekadar rutinitas, melainkan wujud penyerahan diri yang total,
pasrah, dan tulus kepada Sang Pencipta, dengan sebuah untaian kalimat
suci: "Ya Allah, inilah aku".
Frans Alfred Beslar mungkin telah
menyelesaikan tugasnya di dunia ini dan kembali ke pangkuan Bapa di Surga.
Namun, riwayatnya tidak pernah benar-benar mati. Jejak kakinya yang kokoh
takkan mampu dihapus oleh sapuan waktu, karena ia telah menuliskan sebuah puisi
kehidupan yang teramat indah bagi seluruh keturunannya.
Perjalanan yang dimulai dari sebuah
rumah sederhana di dekat riak air Jembatan Nagha-1 Tamako, bertualang
melintasi meja pelayanan elit Wilhelmina Hotel Manado, hingga akhirnya
berakar kuat, menetap, dan berbuah manis di bawah pelukan kabut sutra Tomohon,
adalah bukti sahih dari keagungan cinta seorang ayah.
Frans Alfred Beslar tidak hanya
mewariskan nama marga Beslar yang terhormat kepada anak-cucunya. Lebih
dari itu, ia telah menanamkan nilai-nilai ketangguhan yang tak gampang patah,
arti penting pendidikan yang tinggi, serta ketulusan pengabdian kepada sesama.
Nilai-nilai luhur itulah warisan abadi Frans, yang akan selalu menyala dan
membakar semangat di dalam dada anak, cucu, dan seluruh keturunannya selamanya.
