DIASPORA NUSA UTARA ; LENNY BESLAR
DIASPORA SANGIHE
LENNY BESLAR
disusun oleh ; Alffian Walukow
Penyanyi Perintis Industri
Rekaman Indonesia Era Keroncong, Lagu Daerah, dan Musik Rohani
Identitas Utama
- Nama Artis: Lenny Beslar
- Asal Daerah: Tamako, Kepulauan Sangihe, Sulawesi
Utara
- Basis Karier Awal: Makassar, Sulawesi Selatan
- Tahun Kelahiran: Makasar 1937
- Era Aktif: Akhir dekade 1950-an hingga 1970-an
- Karakter
Vokal: Jernih, lembut, penuh penghayatan, dan dinamis
Lenny Beslar lahir pada tahun 1937 dan merupakan putri asli yang berasal
dari Tamako, Kepulauan Sangihe, Sulawesi Utara. Latar belakang silsilahnya
tercermin kuat pada nama keluarga (marga) "Beslar" yang merupakan
salah satu marga khas masyarakat Minahasa dan kepulauan utara Sulawesi.
Dalam perjalanan hidupnya, Lenny Beslar berpindah dan tumbuh besar di Kota
Makassar, Sulawesi Selatan. Di kota bandar inilah bakat menyanyinya mulai
terasah sejak usia muda pada era pasca-kemerdekaan (1950-an). Pada masa
itu, infrastruktur hiburan di wilayah Indonesia Timur berpusat pada siaran
Radio Republik Indonesia (RRI) Stasiun Makassar serta panggung-panggung orkes
lokal. Melalui panggung Makassar inilah suara emas Lenny Beslar pertama kali
dikenal luas oleh publik hingga akhirnya menarik perhatian para produser musik
nasional di Pulau Jawa.
Keterikatan emosional dan
kultural dengan tanah leluhurnya di Sulawesi Utara tidak pernah luntur. Hal ini
terlihat jelas dalam rekam jejak kariernya di kemudian hari. Dalam sejumlah
dokumentasi visual dan video klip lagu rohaninya pada dekade 1970-an, Lenny
Beslar secara konsisten menggunakan latar belakang wilayah Kepulauan Sangihe,
khususnya kawasan Tahuna, Tamako, dan Bahowo, sebagai wujud representasi
identitas dan kecintaannya pada tanah kelahiran.
Perjalanan Karier dan Kiprah
Musik
1. Era Keroncong (Akhir 1950-an)
Karier profesional Lenny Beslar
di panggung rekaman nasional dimulai sekitar tahun 1959. Kematangan vokal dan
kelembutan suaranya membuat ia dipercaya untuk bergabung dalam proyek rekaman
bersama Orkes Keroncong Asli Studio Surakarta dan Studio Djakarta.
Pada periode ini, ia merekam berbagai repertoar keroncong klasik. Salah
satu karya monumentalnya yang direkam adalah "Keroncong Rayuan
Kelana" beserta sejumlah nomor keroncong asli lainnya. Karakter vokalnya
yang jernih dan penuh penjiwaan menempatkannya sebagai salah satu penyanyi
keroncong perempuan yang sangat diperhitungkan di fajar industri musik modern
Indonesia.
2. Eksplorasi Lagu Daerah Nusantara
Kemampuan musikalitas Lenny Beslar tidak terbatas pada satu genre. Ia
memiliki fleksibilitas tinggi dalam membawakan lagu-lagu daerah dari berbagai
latar budaya di Nusantara. Sastrawan dan pengamat musik Remy Sylado (Tambayong)
dalam catatannya menyebutkan bahwa pasca-seruan anti-Amerika (Manipol Usdek),
Lenny Beslar menjadi sosok krusial dari Makassar yang mempopulerkan kembali
lagu berbahasa Mangkasar legendaris, "Anging Mamiri", sebagai penanda
kebangkitan musik pop lokal Indonesia.
Beberapa rekaman lagu daerah
bernilai historis tinggi yang berhasil ia abadikan meliputi:
- "Pakarena" / "Dongang-Dongang":
Lagu tradisional Sulawesi Selatan yang direkam bersama Djajadi Djamain dan
diiringi oleh Orkes Dasa Rama. Rilisan ini diterbitkan dalam format
piringan hitam komersial shellac berkecepatan 78 RPM oleh label
negara, Lokananta.
- "Luruganna Bamba Puang" / "Djao
Bulan Djao Allo": Kolaborasi bersama M. Muchtar Ro-E dan diiringi
oleh Orkes Massenrempulu, yang mengangkat keluhuran musik tradisional dari
wilayah Enrekang/Bugis.
3. Keterlibatan dalam Album
Kompilasi Nasional
Sebagai penyanyi papan atas di
bawah naungan Lokananta, nama Lenny Beslar bersanding dengan maestro-maestro
besar tanah air dalam album kompilasi bersejarah berjudul "Bingkisan Dari
Tanah Air" (Nomor Katalog: Lokananta BRI-001).
Album ini merupakan proyek
dokumentasi budaya berskala besar yang mempertemukan penyanyi asal Sangihe ini
dengan tokoh-tokoh musik lintas genre seperti Bing Slamet, Amir Hamzah, Hadi
D.S., Netty, Thys Matulessy, hingga kelompok seni prestisius seperti Paduan
Suara RRI, Persatuan Pemuda Kristen Indonesia, Combo Ria, Seni Sunda Studio
Bandung, Sinondang Tapian Na Uli, dan Keluarga Kesenian Bali Studio Denpasar.
4. Era Musik Pop dan Rohani
(1970-an)
Memasuki dekade 1970-an, terjadi
transisi teknologi dan tren musik di Indonesia. Lenny Beslar berhasil
beradaptasi dengan merambah ke genre musik pop dan lagu rohani Kristen.
Repertoar lagunya pada era ini beredar luas di masyarakat dalam format kaset
pita.
Beberapa karya rohaninya yang
sangat ikonik dan masih terus dikenang oleh umat Kristen di Indonesia hingga
saat ini antara lain lagu "Kuasamu Ya Pengasihan" serta lagu duetnya
bersama Alfred Lumeno yang berjudul "Bila Kau Berjalan".
Diskografi Terpilih
Album Kompilasi & Long Play
(LP)
- Bingkisan Dari Tanah Air
- Label: Lokananta (BRI-001)
- Keterangan: Album kompilasi makro budaya
Nusantara; menampilkan nomor-nomor pilihan dari Lenny Beslar.
- Old Favourites Vol. 2
- Kolaborator: Ismanto, Maryati, Netty,
Soeharni, Soendari, Sri Sajekti, Suprapti, Suprapto, dan Radio Orkest
Surakarta.
- Label: Lokananta (ACI-012)
- Rangkaian Lagu-Lagu Keroncong Asli
- Kolaborator: Ismanto, Mariati, Netty, S.
Dharmanto, Sri Sajekti, Suprapto, Tities Idris.
- Pengiring: Orkes Keroncong Asli Studio
Surakarta & Studio Djakarta.
- Label: Lokananta (ARI-009)
Extended Play (EP) & Singel
Piringan Hitam
- Cucu
- Format: EP 7 Inci / Vinyl
- Tahun: 1973
- Label: Bandar Besar (Nomor Katalog: A-003 /
A-004)
- Pakarena / Dongang-Dongang
- Format: Piringan Hitam 78 RPM (Shellac)
- Label: Lokananta (AD-221)
- Kolaborator: Djajadi Djamain & Orkes
Dasa Rama
- Luruganna Bamba Puang / Djao Bulan Djao Allo
- Format: Piringan Hitam 78 RPM (Shellac)
- Kolaborator: M. Muchtar Ro-E & Orkes
Massenrempulu
Warisan Musik dan Pengarsipan
Lenny Beslar merupakan pilar
penting dalam fajar industri rekaman fisik Indonesia. Dedikasinya dalam
mendokumentasikan musik tradisional, keroncong, hingga lagu rohani ke dalam
media piringan hitam (shellac dan vinyl) serta kaset pita
menjadikannya subjek berharga dalam linimasa sejarah musik tanah air.
Rekaman-rekamannya menjadi saksi bisu masa kejayaan Lokananta di Surakarta
sebagai perusahaan rekaman pertama milik negara.
Meskipun catatan detail mengenai
kehidupan pribadinya di masa lalu tergolong langka, identitas kulturalnya
sebagai representasi musisi berbakat dari Tamako, Kepulauan Sangihe yang
bersinar lewat panggung Makassar kini menjadi bagian penting dari catatan sejarah
musik Indonesia Timur. Karya-karyanya terus dilestarikan dan diteliti oleh para
pengarsip musik, kolektor musik antik, serta diapresiasi kembali oleh generasi
digital melalui berbagai platform musik global.
Daftar Pustaka & Referensi
Acuan
- Museum & Arsip Master Rekaman Lokananta
(Surakarta): Lembar manifes fisik produksi piringan hitam era Orde Lama
hingga Orde Baru, Jl. Ahmad Yani No. 379, Surakarta, Jawa Tengah.
- Koleksi Fisik Label Rekaman: Piringan hitam asli
produksi Lokananta Records (Surakarta) untul lagu daerah dan Bandar Besar
Records (Jakarta) untuk rilis pop/rohani.
- Catatan Sejarah Pop Indonesia: Esai kebudayaan Remy
Sylado (Tambayong), publikasi media sosial 5 Agustus 2006 (Catatan kiprah
pasca-Manipol).
- Dokumentasi Sejarah RRI (Radio Republik Indonesia)
Stasiun Makassar: Arsip siaran hiburan musik daerah Sulawesi Selatan.
- Katalog Digital & Komunitas Pengarsip: Database
diskografi Discogs, platform restorasi Irama Nusantara, dan
arsip audio klasik MusicTime.nl.
