IRENIUS "GEBA" LANTEMONA Perupa SULUT yang dilupakan Sejarah
BIOGRAFI DAN
KAJIAN SENI RUPA : IRENIUS
"GEBA" LANTEMONA
Pelopor Seni Rupa Modern dan Patung
Monumental Kepulauan Sangihe
Oleh ; Alffian Walukow
Dalam sejarah seni rupa modern di
Kepulauan Sangihe, nama Irenius Lantemona—yang lebih dikenal dengan nama
panggilannya Geba—merupakan salah satu tokoh pelopor yang layak mendapat
perhatian lebih besar. Melalui karya-karya patung monumental, lukisan, hingga
komik, Geba memperlihatkan bahwa wilayah kepulauan di utara Sulawesi telah
memiliki tradisi dan dinamika seni rupa modern sejak awal dekade 1970-an.
Meskipun sebagian besar karyanya
kini telah hilang atau tidak diketahui lagi keberadaannya, sejumlah karya
monumental yang masih bertahan menjadi bukti kemampuan artistik dan visi
estetikanya yang tinggi. Penelusuran sejarah yang dilakukan oleh masyarakat
melalui berbagai kesaksian lisan berhasil mengangkat kembali nama Geba sebagai
salah satu perupa akademis asal Sangihe yang pernah menempuh pendidikan seni di
Jakarta.
I. BIOGRAFI DAN LATAR BELAKANG
HISTORIS
1. Silsilah, Keluarga, dan
Keagamaan
Irenius Lantemona merupakan putra
dari Pdt. P. Lantemona, seorang tokoh gerejawi terpandang yang menjabat sebagai
Ketua Sinode Gereja Masehi Injili di Sangihe Talaud (GMIST) pada dekade
1960-an. Tumbuh dalam lingkungan keluarga yang religius dan melayani gereja,
Geba membentuk pribadi yang bersahaja, rendah hati, tekun berkarya, serta
memiliki ikatan kultural yang kuat dengan masyarakatnya.
2.
Memori Kolektif Marga Lantemona dan Tradisi Lisan
Selain
latar belakang lingkungan pelayanan gereja, keluarga Geba memiliki hubungan
historis dengan nama besar Lantemona dalam tradisi lisan (oral tradition)
masyarakat Kepulauan Sangihe.
- Panglima Perang dan Kekerabatan Kerajaan: Marga
Lantemona diyakini memiliki kaitan erat dengan sejarah kerajaan lokal.
Dalam cerita rakyat/tradisi lisan, sosok Lantemona dikenal sebagai
Panglima Perang Kerajaan Mangani, pada masa konflik antar kerajaan. Ia
juga diceritakan sebagai kerabat dekat Raja Bataha Santiago.
- Perang Tahuna-Manganitu ke-2
Peristiwa Banohang Saghudi: Salah
satu episode paling dikenal menyebutkan bahwa dalam pertempuran di sekitar
kompleks Istana Manganitu, Lantemona berhasil mengalahkan panglima perang
Kerajaan Tahuna bernama Pulungtumbage, menggunakan sebuah tombak yang ditikamkan dari dubur
tembus ke kepala. Peristiwa tersebut dipercaya terjadi di lokasi yang
kini dinamai Banohang Saghudi (Sangihe: "Linangan Air Mata"
atau "Tempat Air Mata Mengalir"), penanda ingatan kolektif
atas duka peperangan.
- Catatan
Kritis-Historis: Walaupun belum ditemukan bukti tertulis berupa naskah
kerajaan, arsip kolonial, atau dokumen genealogis definitif yang
menghubungkan langsung keluarga Irenius Lantemona dengan tokoh Lantemona
dalam sejarah peperangan tersebut, kesamaan marga menunjukkan pentingnya
nama Lantemona dalam memori kolektif Sangihe. Terlepas dari ketiadaan
bukti tertulis, Irenius "Geba" Lantemona mengukir warisan besar
nama keluarganya bukan melalui medan pertempuran, melainkan melalui
dedikasi seni rupa yang memperkaya identitas budaya daerahnya.
3. Etimologi Nama
"Geba" dan Relevansi Kultural
Secara linguistik dan etimologis,
nama panggilan "Geba" memuat akar kata yang sangat dekat dengan
kearifan lokal Sangihe. "Geba" merupakan kata dasar dari
"Bageba", yakni salah satu komponen atau perangkat alat yang digunakan
dalam tradisi Tenun Koffo (tenun serat pisang abaka khas Sangihe).
Dalam proses menenun, perangkat bageba
berfungsi untuk menganyam, mengatur, dan merapatkan jalinan benang hingga
menjadi selembar kain yang utuh dan indah. Secara filosofis, nama ini sangat
representatif dengan filosofi hidup Geba yang merapatkan jalinan tradisi lisan,
memori sejarah, dan semangat modernitas ke dalam media seni rupa.
II. REKAM JEJAK PENDIDIKAN DAN
KARAKTER SENIMAN
1.
Awal Pembinaan Seni di Tahuna (Akhir 1960-an)
Bakat
menggambar Geba telah terlihat mencolok sejak ia duduk di bangku SMA Negeri
Tahuna. Menurut kesaksian teman dekatnya yang juga seorang pelukis, Pory
Makahanap, Geba merupakan murid pertama dari pelukis realis bernama
Iskandar—seorang seniman yang didatangkan ke Tahuna pada masa pemerintahan
Bupati Soetoyo.
"Iyo,
kita deng Geba itu murid pertama Iskandar waktu kelas 1 SMA Negeri Tahuna.
Torang dua teman dekat kong sama-sama belajar melukis."
— Pory Makahanap
Kesaksian ini membuktikan bahwa
proses pembinaan dan pengenalan seni rupa modern bercorak realisme akademis di
Sangihe telah dimulai secara terstruktur sejak akhir tahun 1960-an.
2. Pendidikan Seni Akademis di
IKJ (1970-an)
Bakat alam dan dasar seni yang
kuat membawanya merantau untuk menempuh pendidikan tinggi seni di Institut
Kesenian Jakarta (IKJ) sekitar tahun 1970-an. Pendidikan akademis ini
memperdalam pemahamannya mengenai anatomi, proporsi, teknik pengecoran dan
pemodelan beton bertulang, serta estetika rupa modern.
(Note:
Informasi pendidikan akademis ini bersumber dari kesaksian para sahabat dan
masyarakat, yang memerlukan verifikasi arsip resmi IKJ).
3. Seniman Multitalenta (Multidisciplinary
Artist)
Geba bukan hanya seorang
pematung, melainkan perupa serbabisa yang menguasai berbagai disiplin media
visual:
- Pelukis Realis: Menguasai teknik seni lukis
figuratif dan lanskap.
- Ilustrator & Pembuat Komik: Pernah mengikuti
ajang Lomba Komik Nasional. Sebuah anekdot sejarah mencatat bahwa karyanya
sempat didiskualifikasi bukan karena kualitas visual/gambarnya yang buruk,
melainkan karena penggunaan dialek/bahasa Indonesia sehari-hari yang
dianggap tidak memenuhi kaidah kebahasaan lomba nasional saat itu.
- Perancang
Seni Monumental dan Seni Publik.
4.
Karakter Pribadi
Rekan-rekan sejawat dan warga
Tahuna mengenang Geba sebagai sosok yang sangat sederhana, rendah hati, tekun,
dan tidak suka menonjolkan diri. Meskipun memiliki latar belakang pendidikan
seni akademis dari ibu kota, ia tetap membumi, menyatu dengan masyarakat, dan
mendedikasikan kemampuan artistiknya untuk memajukan identitas visual daerah
asalnya.
III. KAJIAN SENI RUPA DAN
KARYA-KARYA UTAMA
1.
Pelopor Patung Monumental Modern Sangihe (1972–1974)
Karya
Geba yang paling monumental dan fenomenal berdiri di halaman bekas Kantor
Bupati Kabupaten Kepulauan Sangihe Talaud di Tahuna. Patung pasangan
pemuda-pemudi ini dibuat sekitar tahun 1972–1974 pada masa pemerintahan Bupati
Yudha Tindas.
A.
Teknik dan Material
Proses
pembuatan patung ini tergolong sangat maju untuk ukuran wilayah kepulauan pada
awal dekade 1970-an:
- Struktur Material: Menggunakan konstruksi rangka
besi (steel frame), beton bertulang (reinforced concrete),
dan teknik pemodelan realistis langsung (direct modeling/carving).
- Proses Pengerjaan: Menurut kesaksian Johanis Saul,
perakitan dan pembuatan rangka awal dilakukan di belakang kompleks sekolah
GMIST, sebelum kemudian dibawa dan diselesaikan (finishing) secara
langsung di lokasi halaman Kantor Bupati.
B. Analisis Estetika dan Makna
Komposisi
Sepasang patung tersebut
dirancang bukan sekadar sebagai elemen dekoratif tata kota (urban decoration),
melainkan sebuah representasi alegoris semangat Pembangunan Orde Baru bagi
generasi muda Sangihe:
[Simbolisme
Figuratif Patung Karya Geba]
├──
Figur Laki-Laki : Memiliki postur atletis, tangan meraih ke atas.
│ └─ Simbol: Cita-cita
tinggi, kerja keras, optimisme, & daya juang.
└── Figur Perempuan : Melangkah tegas ke
depan, ekspresi optimistis.
└─ Simbol: Masa depan,
pendidikan, keemasan, & kemajuan wanita.
- Figur
Laki-Laki: Digambarkan dengan anatomi yang tegap, memegang pose meraih ke
atas. Pose ini memvisualisasikan semangat mencapai cita-cita tinggi, kerja
keras, serta optimisme pembangunan daerah.
- Figur
Perempuan: Digambarkan melangkah maju ke depan dengan pandangan penuh
harapan. Karya ini menjadi simbolisasi atas pentingnya pendidikan,
kesetaraan peran, dan keterlibatan perempuan dalam menyongsong masa depan
modern Sangihe.
- Gaya
Visual: Mengusung aliran Realisme Akademis, menunjukkan kecermatan
pencipta dalam mengolah proporsi tubuh, gestur, serta drapery ( lipatan
pakaian) yang naturalis.
C.
Model Manusia (Live Models)
Keunikan patung monumental ini
terletak pada penggunaan warga lokal Tahuna sebagai model nyata:
- Model Laki-Laki: Menggunakan figur Semuel Warokka.
Menurut putrinya, Fone Warokka, ayahnya dipilih setelah melalui seleksi
ketat karena memiliki postur tubuh atletis. Semuel Warokka merupakan
penjaga gawang (goalkeeper) sepak bola legendaris Sangihe pada
masanya, sekaligus pemain klarinet pada Grup Musik Bambu Fajar dan
Maranatha Tahuna.
- Model Perempuan: Menggunakan figur Lisye Hormati,
seorang siswi berprestasi yang menjadi ikon/representasi perempuan muda
Tahuna pada era 1970-an. (Meskipun ada beberapa perbedaan pendapat
lisan, konsensus mayoritas saksi mengarah pada Lisye Hormati).
2. Karya Seni Sakral / Religius
Sebagai putra seorang pendeta dan
tumbuh di lingkungan GMIST, Geba juga menyumbangkan karya seni sakral untuk
ruang peribadatan.
- Patung Yesus Disalib: Geba pernah merancang dan
membuat patung salib Yesus yang diletakkan di atas mimbar utama sebuah
gereja di Tahuna.
- Dinamika Pelestarian: Ketika bangunan gereja
tersebut mengalami renovasi interior modern beberapa dekade kemudian,
patung tersebut dipindahkan ke area luar/halaman gereja. Keberadaan patung
ini menjadi bukti nyata kontribusi Geba dalam pengembangan seni rupa
sakral/gerejawi di tanah Sangihe.
3. Masalah Pelestarian dan Karya
yang Hilang
Meskipun berbagai kesaksian
menyebutkan bahwa Geba menghasilkan banyak patung dan karya seni rupa lain di
Kepulauan Sangihe, sebagian besar karyanya kini telah:
- Hilang
tanpa dokumentasi resmi,
- Rusak akibat faktor cuaca dan kurangnya perawatan,
- Dipindahkan
atau diubah tanpa memperhatikan nilai sejarah seni rupa (art
conservation).
Kondisi
ini mencerminkan masih lemahnya sistem pelestarian, dokumentasi, dan
perlindungan terhadap karya-karya seni rupa daerah di Indonesia.
IV.
NILAI HISTORIS.
1.
Nilai Penting bagi Sejarah Seni Rupa Indonesia
Keberadaan
karya-karya Irenius "Geba" Lantemona memiliki arti strategis bagi
penulisan sejarah seni rupa di Sulawesi Utara dan Indonesia secara umum:
- Membuktikan
Desentralisasi Seni Rupa Modern: Menunjukkan bahwa praktik seni rupa
akademis bertaraf modern dan pematungan monumental telah berakar di daerah
kepulauan terluar (Sangihe) sejak awal 1970-an.
- Kualitas
Akademis Seniman Daerah: Menjadi bukti bahwa seniman putra daerah mampu
menyerap tradisi akademis ibu kota (IKJ) dan mentransformasikannya ke
dalam narasi lokal.
- Seni
Publik sebagai Identitas: Menjadikan karya seni publik sebagai bagian
terintegrasi dari perkembangan ruang dan estetika Kota Tahuna.
2.
Kawasan Bekas Kantor Bupati sebagai Locus Memori
Kawasan
bekas Kantor Bupati Sangihe Talaud tempat berdiri sepasang patung karya Geba
merupakan ruang lanskap sejarah yang unik (palimpsest sejarah), karena
memadukan tiga lapisan era sekaligus:
- Era
Kerajaan & Tradisi Lisan: Keberadaan situs sumur tua yang dikenal
sebagai Sumu i Lantemona / Sumu i Pulungtumbage.
- Era
Kolonial VOC: Keberadaan dua meriam kuno milik Kerajaan Tabukan
peninggalan VOC.
- Era
Modern Orde Baru: Karya patung monumental Irenius "Geba"
Lantemona yang menyimbolkan masa depan generasi muda.
Perpaduan
unsur-unsur ini menjadikan lanskap tersebut sebagai pusat memori kolektif (collective
memory) masyarakat Sangihe.
3.
Inisiatif Komunitas dan Harapan Pemugaran
Identitas
dan rekam jejak Geba sebagai pencipta patung monumental tersebut berhasil
diangkat kembali ke permukaan berkat penelusuran swadaya masyarakat, khususnya
melalui diskusi di komunitas digital Grup Facebook Sahabat Pesona Sangihe (SPS)
pada tahun 2022.
Masyarakat
dan pelaku kebudayaan berharap, apabila pemerintah daerah atau pihak terkait
melakukan proses pemugaran (restorasi) terhadap patung monumental
tersebut:
- Nama
Irenius "Geba" Lantemona dicantumkan secara resmi (plakat
prasasti) sebagai maestro penciptanya.
- Karya-karya
monumental yang tersisa ditetapkan sebagai Objek Diduga Cagar Budaya
(ODCB) atau warisan seni rupa daerah.
V.
PENUTUP
Irenius
"Geba" Lantemona adalah figur pelopor yang menancapkan tonggak awal
seni patung monumental modern di Kepulauan Sangihe. Kombinasi antara pendidikan
seni akademis, keahlian teknis, latar belakang keluarga yang religius, serta
kepekaan atas sejarah dan kebudayaan daerah melahirkan karya-karya yang tidak
hanya indah secara estetis, tetapi juga merekam dinamika zaman.
Meskipun
fisik dari banyak karyanya telah tergerus waktu, jejak artistik Geba tetap
hidup melalui ingatan masyarakat dan segelintir karya monumental yang tersisa.
Upaya dokumentasi, penelitian filologis-historis, dan konservasi terhadap karya
Irenius Lantemona merupakan langkah krusial untuk menyelamatkan bagian penting
dari puzle sejarah seni rupa Sulawesi Utara dan Indonesia.
DAFTAR
SUMBER & CATATAN METODOLOGIS
Sumber
Data & Referensi:
- Diskusi
Komunitas Digital: Arsip unggahan dan penelusuran sejarah lokal pada Grup
Facebook Sahabat Pesona Sangihe (SPS) (2022).
- Kesaksian
Lisan (Oral History): Hasil wawancara dan kesaksian dari Johanis
Saul, Juraji Rumiki, Pory Makahanap, Victor Bawele, Sianto Tandayu, Fone
Warokka, Johny Damar, Sem Makaluase, Ricardo, Jacoba Tambaru, Esther
Grace, serta para tokoh/anggota masyarakat Tahuna lainnya.
- Tradisi
Lisan Sangihe: Narasi lokal mengenai kawasan bekas Kantor Bupati Tahuna,
Situs Meriam VOC, Perang Manganitu–Tahuna, serta cerita Sumu i
Lantemona / Sumu i Pulungtumbage dan Banohang Saghudi.
- Studi
Seni Rupa: Literatur umum sejarah perkembangan seni patung dan seni rupa
modern Indonesia (1970–1980).
Catatan
Akademis:
Sebagian
besar data biografis dan rekam karya Geba Lantemona di atas dihimpun melalui
pendekatan sejarah lisan (oral history). Untuk kepentingan penulisan
ilmiah, publikasi akademik, atau pengusulan sebagai tokoh pahlawan/maestro seni
daerah, sangat disarankan untuk melakukan verifikasi silang (triangulasi
data) melalui:
- Arsip akademik registrasi mahasiswa di Institut
Kesenian Jakarta (IKJ).
- Dokumen dan arsip cetak Pemerintah Kabupaten
Kepulauan Sangihe (dokumen proyek pembangunan/dinas kebudayaan tahun
1970–1974).
- Arsip/dokumen
administrasi Sinode GMIST.
- Penelusuran
arsip foto dokumen keluarga dan wawancara mendalam lanjutan bersama para
saksi sejarah yang masih hidup.

