LEGENDA PINGKAN DAN MATINDAS
KAJIAN SASTRA
& HISTORIOGRAFI
LEGENDA
PINGKAN DAN MATINDAS
Oleh : Alffian
Walukow
Legenda
Pingkan dan Matindas (atau Matindas dan Mogogunoi) merupakan
salah satu narasi mitologis-heroik terpenting dalam khazanah sastra dan sejarah
kebudayaan Minahasa. Narasi ini tidak hanya berfungsi sebagai cerita rakyat (folklore)
tentang kesetiaan cinta dan kejelitaan, melainkan berkembang menjadi instrumen
perlawanan kultural, identitas kebangsaan, serta simbol dinamika seni
pertunjukan dan seni rupa modern di Sulawesi Utara.
I. Historiografi Publikasi Tulis
dan Transmisi Teks
Secara historis, perjalanan
naskah Pingkan dan Matindas mengalami evolusi panjang dari tradisi lisan
(oral tradition) hingga kodifikasi cetak dan transformasi panggung:
1. Kodifikasi Etnografis Abad
ke-19 (NZG & N. Graafland)
- Mededeelingen van wege het Nederlandsche
Zendelinggenootschap (MNZG, 1863): Laporan edisi Jaargang 7 (1
Januari 1863) menjadi salah satu dokumen cetak paling awal yang merekam
tradisi tutur ini. Para misionaris Belanda mendokumentasikan varian Matindas
dan Mogogunoi yang berakar dari tradisi lisan masyarakat
Maarom/Tanahwangko.
- N. Graafland (De Minahassa, 1867/1898):
Misionaris dan pendidik Nicolaas Graafland merekam kisah ini secara
komprehensif dalam magnum opusnya. Ia mencatat penyepadanan nama tokoh
antara Mogogunoi dan Pingkan, serta menguraikan motif
pahatan patung kayu, penculikan, hingga perselisihan historis pra-kolonial
dengan Kerajaan Bolaang Mongondow.
2.
Gelombang Sastra Modern Abad ke-20 (H.M. Taulu & G.W.J. Drewes)
- H.M.
Taulu (Bintang Minahasa, 1920-an/1930-an): Budayawan Hersevien M.
Taulu mentransformasikan cerita tutur tersebut ke dalam bentuk novel
sejarah/roman berbahasa Melayu yang diterbitkan oleh Balai Pustaka.
- G.W.J.
Drewes (A Modern Malay Reader, 1947): Orientalis Belanda G.W.J.
Drewes memasukkan fragmen teks Pingkan dan Matindas karya H.M.
Taulu ke dalam antologi A Modern Malay Reader (diterbitkan oleh
Servire, Den Haag, 1947). Penerbitan ini mengangkat legenda lokal Minahasa ke
tingkat kajian linguistik dan sastra internasional.
II. Komparasi Variasi Versi
Cerita
Dalam analisis struktural
folklore, terdapat dua varian utama cerita yang terdokumentasi dalam literatur:
┌──────────────────────────────────────────┐
│
Naskah Lisan & Cerita Rakyat Asal
│
└────────────────────┬─────────────────────┘
│
┌────────────────────────┴────────────────────────┐
▼
▼
【Versi I: Pesisir / Bahari】 【Versi II: Kontak Kerajaan】
(Latar: Mandolang /
Tanahwangko) (Latar:
Maarom / Kerajaan)
──────────────────────────────────────── ────────────────────────────────────────
• Tokoh: Matindas & Pingkan • Tokoh: Matindas &
Mogogunoi
• Antagonis:
Perompak Mindanao (*Magahat*) •
Antagonis: Raja Mongondo (Loloda Mokoagow)
• Motif: Navigasi Bintang & Pelarian • Motif: *Trickster* (Peti Kayu
& Topeng)
• Sumber: H.M. Taulu / Drewes (1947) • Sumber: MNZG (1863) & Graafland (1867)
- Versi
Pesisir / Bahari (Matindas & Pingkan):
Berfokus pada
kerinduan Matindas pada laut, pembuatan dua patung kayu sebagai penawar rindu,
kecelakaan kapal akibat badai, serta penawanan Matindas oleh perompak Mindanao
(Filipina Selatan) hingga ia berhasil meloloskan diri bersama dua pemuda asal
Siau.
- Versi Kerajaan / Siasat (Matindas & Mogogunoi):
Berfokus pada
penculikan patung hanyut oleh prajurit Raja Mongondo. Raja berencana membunuh
Matindas untuk merebut Mogogunoi. Melalui kecerdikan (trickster motif),
Mogogunoi menyembunyikan suaminya di peti kayu dan membujuk sang Raja memakai
topeng serta pakaian Matindas saat menari di halaman, sehingga prajurit raja
salah membunuh pemimpin mereka sendiri.
III.
Panggung Perlawanan Kultural: Maria Walanda Maramis & PIKAT (1917–1920-an)
Transformasi
legenda ini dari naskah teks menjadi seni pertunjukan modern diinisiasi oleh
pahlawan nasional Maria Walanda Maramis.
1.
Latar Belakang dan Misi Kebudayaan
Setelah
mendirikan organisasi PIKAT (Percintaan Ibu Kepada Anak Turunannya) pada
8 Juli 1917, Maria menyadari bahwa pendidikan Barat era kolonial berisiko
mengikis kecintaan generasi muda Minahasa terhadap sejarah dan identitas
lokalnya. Untuk membendung arus westernisasi, Maria menggagas pementasan teater
rakyat berskala besar dengan mengangkat legenda Pingkan dan Matindas.
2.
Dinamika Politik Kebudayaan & Konflik
Pementasan
teater ini dimanfaatkan sebagai instrumen perlawanan kultural yang menyisipkan
pesan emansipasi, kedaulatan, dan harga diri bangsa:
- Boikot
Pengurus Belanda: Pertunjukan ini mendapat tekanan dan boikot keras dari
pengurus PIKAT berkebangsaan Belanda (termasuk istri Residen Manado)
karena dinilai terlalu menonjolkan sentimen pribumi.
- Dukungan Sastra Lokal: Gerakan ini mendapat sokongan
luas dari tokoh pergerakan lokal. Surat kabar Tjahaja Sijang memuat
sajak-sajak tradisional Minahasa yang digubah oleh Joseph Walanda (suami
Maria) untuk mengamplifikasi semangat nasionalisme pementasan tersebut.
IV.
Kontribusi Dua Maestro Seni Rupa Sulawesi Utara
Keberhasilan
visualisasi kisah Pingkan dan Matindas ditopang oleh dua tokoh akademis
seni rupa pelopor:
1.
Fredrik Kasenda (1891–1942): Sang Scenographer
- Peran:
Ditunjuk langsung oleh Maria Walanda Maramis sebagai penata panggung (scenographer).
- Inovasi:
Pelukis aliran Mooi Indie kelahiran Remboken ini membawa disiplin
seni rupa akademis ke atas panggung teater rakyat. Ia menerapkan
perspektif kedalaman ruang, manipulasi pencahayaan obor, serta
rekonstruksi akurat pemukiman Minahasa abad ke-17 di atas panggung.
2.
Alexander Bastian Wetik: Sang Maestro Monumen
- Latar
Belakang: Sempat menempuh pendidikan kedokteran di STOVIA Jakarta sebelum
akhirnya mendalami seni rupa akademis di ASRI (Akademi Seni Rupa
Indonesia) Yogyakarta.
- Karya
Ikonik: Memahat Patung Pingkan dan Matindas dalam bentuk monumen tiga
dimensi ber-anatomi presisi yang berdiri di halaman depan Gedung Kesenian
Pingkan Matindas, Manado. Karya monumental lainnya meliputi Patung DR. Sam
Ratulangi (Wanea, Manado), Patung Bogani (Kotamobagu), serta Monumen
Korengkeng dan Sarapung (Tondano).
V.
Gedung Kesenian Pingkan Matindas sebagai Oase Budaya
Gedung
Kesenian Pingkan Matindas yang terletak di Jalan Ahmad Yani, Dendengan Dalam,
Kota Manado, menjadi muara fisik dari jaringan sejarah ini:
- Arsitektur:
Mengadopsi struktur Rumah Adat Minahasa panggung modern dengan ciri khas
tangga kembar di bagian depan yang mengapit pintu masuk utama
(menyimbolkan keseimbangan dan keterbukaan).
- Fungsi
& Daya Tahan: Sejak era 1980-an menjadi pusat pameran, teater, dan
konser tradisi. Pasca-lumpuh akibat banjir bandang Manado tahun 2014
(terendam hingga 2 meter), gedung ini berhasil direnovasi melalui gerakan
komunitas seni dan pemerintah sebagai ruang penyelamatan memori kolektif
daerah.
Kesimpulan
Terjadi sebuah estafet kebudayaan
yang utuh melintasi zaman. Berakar dari tradisi tutur pesisir dan catatan
etnografis abad ke-19 (MNZG & N. Graafland), kisah Pingkan dan
Matindas dikodifikasikan dalam literatur cetak oleh H.M. Taulu dan G.W.J.
Drewes. Oleh Maria Walanda Maramis dan Fredrik Kasenda, narasi ini diangkat
menjadi panggung perlawanan kultural. Nilai-nilai heroik tersebut akhirnya
diabadikan secara permanen oleh Alex B. Wetik melalui monumen patung di halaman
Gedung Kesenian Pingkan Matindas Manado, memastikan memori kolektif masyarakat
Minahasa tetap hidup melintasi generasi.
Daftar
Pustaka / Referensi
- Drewes,
G. W. J. (1947). A Modern Malay Reader: With a Glossary. Den Haag:
Servire.
- Graafland, N. (1867–1869). De Minahassa: haar
verleden en haar tegenwoordige toestand. Rotterdam: M. Wyt & Zonen.
- Nederlandsche Zendelinggenootschap. (1863). Mededeelingen
van wege het Nederlandsche Zendelinggenootschap (Jaargang 7). Rotterdam: M. Wyt & Zonen.
- Taulu,
H. M. (1930-an / Cetak ulang 1978). Bintang Minahasa (Pingkan
Mogogunoiy). Jakarta: Balai Pustaka / Depdikbud.
Dalam Kamus
Tountembouan tertulis “Pintjan”, (Pincan) kata benda feminin (nama
diri); dalam bahasa kuno kata ini berarti "piring", seperti halnya
dalam bahasa Toba pingkan, Makassar pindjang, Bugis pintjĕng.
Publikasi tertua
Legenda Pingkan dan
Matindas ( publish : 1863)
Didokumentasi tua
itu tidak ada
nama “Pingkan”.
Lalu dari
versi manakah memunculkan nama
Pingkan?
KISAH PINGKAN DAN
MATINDAS
JUDUL : CINTA DAN KESETIAAN
Sumber : Mededeelingen van wege
het Nederlandsche Zendelinggenootschap :[bijdragen tot de kennis der zending en
der taal-, land- en volkenkunde van Nederlandsch-Indië], jrg 7, 1863,
01-01-1863
(terjemahan dari
Bahasa Belanda)
Di negeri (desa) Maarom, hiduplah
MATINDAS bersama istrinya, MOGOGUNOI. Istrinya adalah seorang wanita yang
sangat jelita dan MATINDAS sangat mencintainya, hingga ia tidak ingin
meninggalkannya sekejap pun. Namun karena hal ini, ia jadi sangat melalaikan
pekerjaannya. Oleh karena itu, MOGOGUNOI berkata kepadaya: "Jika engkau
ingin melihatku setiap saat, buatlah sebuah patung yang menyerupaiku, yang bisa
engkau bawa ke mana pun engkau pergi." MATINDAS pun menuruti nasihat itu,
— dan sejak saat itu, setiap kali ia pergi berburu atau memancing ikan, ia
selalu membawa patung istrinya yang cantik itu. Hal tersebut berjalan sesuai harapannya untuk waktu
yang cukup lama. Namun suatu ketika saat sedang memancing di laut, badai
meliputinya, ombak laut meninggi, dan dengan bersusah payah ia berhasil
menyelamatkan nyawanya, tetapi ia kehilangan patung istrinya tersebut.
Tidak
lama setelah itu, para pelayan (prajurit) Raja Mongondo tiba di pantai Maarom,
menemukan patung yang hilang itu terapung di laut, lalu membawanya kepada raja
mereka. Saat melihat patung yang cantik ini, sang raja seketika jatuh cinta
pada orang yang digambarkan oleh patung tersebut. Ia kemudian mengutus para
pelayan untuk melakukan pencarian. Mereka akhirnya tiba... ...juga
tiba di Maarom. Di sini mereka mengadu dua ekor ayam jantan, demi memancing
para penghuni negeri (desa) keluar dari rumah mereka melalui hiburan ini.
MOGOGUNOI pun merasa penasaran dan datang untuk melihat sabung ayam tersebut.
Dengan demikian, para pelayan menemukan sosok dari patung yang mereka dapatkan.
Karena gembira atas penemuan ini, mereka berkata kepadanya: "Dalam
sembilan hari lagi sang raja akan datang untuk mengangkatmu sebagai
putrinya." Setelah para pelayan itu pergi, MATINDAS berkata kepada
istrinya: "Mari kita melarikan diri ke hutan sebelum raja Mongondo datang,
karena ia pasti akan membunuhku, dan bukan mengangkatmu sebagai anaknya
melainkan menjadikannya istrinya." "Engkau ini sungguh kurang
akal," jawab istrinya, "buatkan saja sebuah peti yang cukup besar
hingga seseorang bisa berbaring di dalamnya dengan nyaman, dan engkau akan
lihat bagaimana aku akan menyelamatkanmu."
Sementara
itu, para pelayan kembali kepada raja dengan membawa kabar gembira: "Kami
telah menemukan orang yang dicari, — dia memang sangat cantik, tetapi ia adalah
istri MATINDAS." Raja pun berangkat bersama sepasukan prajurit untuk
membunuh MATINDAS dan mengambil MOGOGUNOI sebagai istrinya. Setibanya di
Maarom, raja beserta para pelayan dan prajuritnya naik ke darat, lalu
memerintahkan mereka untuk membunuh MATINDAS begitu mereka melihatnya. MATINDAS
dan istrinya telah mendengar perintah kejam ini. MOGOGUNOI kemudian berkata
kepada suaminya: "Lepaskan pakaianmu, gantungkan di dinding, lalu
berbaringlah di dalam peti, dan aku akan duduk di atasnya." Baru saja hal
itu dilakukan, raja masuk ke dalam rumahnya tanpa pengawal: "Di mana MATINDAS?"
"Dia sedang berburu di hutan," jawab istrinya. "Aku
datang," sahut raja kembali, "untuk membunuhnya dan menjadikanmu
istriku. Maukah engkau, MOGO... yang cantik... ...GUNOI, maukah menjadi
istriku?" Setelah berpikir sejenak, ia menjawab: "Dengan senang hati,
karena MATINDAS itu cuek dan pemalas. Tetapi kita harus sangat berhati-hati,
karena seluruh penduduk negeri ini adalah keluarga MATINDAS, dan mereka akan
membunuhmu serta membunuhku juga jika mengetahui pelarian kita. Untuk mencegah
bencana ini, sebaiknya Anda mengenakan pakaian dan topeng MATINDAS serta meniru
kebiasaannya, sehingga keluarganya akan mengira bahwa Anda adalah MATINDAS, dan
kita dapat naik ke kapal tanpa bahaya." Menganggap nasihat ini bagus, raja
berganti pakaian, mengenakan topeng MATINDAS, lalu berkata kepada MOGOGUNOI:
"Ayo, mari kita pergi sekarang." "Baiklah," sahut
MOGOGUNOI, "tetapi MATINDAS biasanya berjalan di depan, melompat turun
dari anak tangga ketiga, lalu membawakan tari perang di halaman, barulah aku
mengikutinya. Mari kita lakukan hal yang sama." Raja menuruti hal itu, dan
ketika ia sedang menari di halaman sambil mengibaskan pedangnya ke udara,
MOGOGUNOI berteriak kepada para prajurit raja: "Lihat, itu MATINDAS, bunuh
dia!" Para prajurit, yang mengira bahwa orang yang sedang menari itu
benar-benar MATINDAS, segera menyerbu sesuai perintah yang sebelumnya mereka
terima dari raja mereka, lalu membunuhnya. Saat mengangkat topeng tersebut,
barulah mereka menyadari kesalahan mereka. Rasa takut yang amat sangat
melingkupi hati mereka, dan dengan terburu-buru mereka pun melarikan diri.
Dengan cara inilah MOGOGUNOI menjaga kehormatannya dan menyelamatkan nyawa
suaminya. Setelah kematian sang raja, MATINDAS keluar kembali dari dalam peti,
dan sejak saat itu hidup bahagia bersama MOGOGUNOI yang jelita.
Terjemahan
ke Bahasa Indonesi Kini :
Berikut
adalah penyusunan ulang cerita tersebut dalam Bahasa Indonesia Modern dengan
alur paragraf yang mengalir, rapi, dan mudah dipahami tanpa mengubah jalan
ceritanya:
Legenda
Matindas dan Mogogunoi
Di
sebuah desa bernama Maarom, hiduplah seorang pria bernama Matindas bersama
istrinya, Mogogunoi. Istrinya memiliki paras yang amat jelita, dan Matindas
begitu mencintainya hingga tak ingin berpisah sekejap pun. Namun, rasa cinta
yang berlebihan ini membuat Matindas sangat melalaikan pekerjaannya.
Melihat
hal itu, Mogogunoi memberi saran kepada suaminya, "Jika engkau ingin
selalu melihatku setiap saat, buatlah sebuah patung yang menyerupai diriku agar
bisa kaubawa ke mana pun engkau pergi."
Matindas
menuruti nasihat tersebut. Sejak saat itu, setiap kali pergi berburu atau
memancing ikan, ia selalu membawa patung istrinya yang cantik itu. Cara ini
berjalan baik untuk waktu yang cukup lama. Namun pada suatu hari, ketika
Matindas sedang memancing di tengah laut, badai dahsyat tiba-tiba menerjang.
Ombak meninggi dan menggulung perahunya. Meski Matindas berhasil menyelamatkan
nyawanya dengan bersusah payah, patung kesayangan istrinya itu hanyut dan
hilang ditelan laut.
Penemuan
Patung dan Rencana Sang Raja
Tidak
lama kemudian, prajurit dari Raja Mongondo yang sedang melaut di sekitar pantai
Maarom menemukan patung itu terapung di air. Mereka memungutnya dan membawanya
kehadapan sang raja. Begitu melihat keindahan patung tersebut, Raja Mongondo
langsung jatuh cinta pada sosok wanita yang digambarkan oleh patung itu. Ia
segera mengutus para prajuritnya untuk melakukan pencarian hingga akhirnya
mereka tiba di Desa Maarom.
Untuk
memancing para penduduk keluar rumah, para prajurit mengadakan pertunjukan
sabung ayam di tengah desa. Mogogunoi yang penasaran pun ikut datang menonton.
Dari situlah para prajurit berhasil mengenali sosok wanita yang selama ini
mereka cari. Dengan gembira, mereka berkata kepada Mogogunoi, "Dalam
sembilan hari lagi, sang raja akan datang untuk mengangkatmu sebagai
putrinya."
Setelah
para prajurit itu pergi, Matindas yang cemas berkata kepada istrinya, "Mari
kita melarikan diri ke hutan sebelum Raja Mongondo tiba. Ia pasti akan
membunuhku, dan bukan mengangkatmu sebagai anak, melainkan menjadikannya
istrinya!"
Namun, Mogogunoi menyahut dengan
tenang, "Engkau ini sungguh kurang akal. Buatkan saja sebuah peti kayu
yang cukup besar hingga seseorang bisa berbaring di dalamnya dengan nyaman, dan
lihatlah bagaimana aku akan menyelamatkanmu."
Siasat Mogogunoi
Sementara itu, para prajurit
kembali ke istana dan melaporkan hasil pencarian mereka, "Kami telah
menemukan wanita tersebut. Parasnya memang sangat cantik, tetapi ia adalah
istri Matindas."
Mendengar hal itu, Raja Mongondo
langsung berangkat bersama sepasukan prajurit untuk membunuh Matindas dan
merebut Mogogunoi. Setibanya di Maarom, sang raja memerintahkan pasukan
prajuritnya untuk langsung membunuh Matindas begitu mereka melihatnya.
Matindas dan istrinya telah
mendengar perintah kejam tersebut. Mogogunoi segera menjalankan siasatnya dan
berkata kepada suaminya, "Lepaskan pakaianmu, gantungkan di dinding,
lalu berbaringlah di dalam peti ini. Aku akan duduk di atasnya."
Baru saja Matindas bersembunyi di
dalam peti, sang raja masuk ke dalam rumah seorang diri tanpa pengawal. "Di
mana Matindas?" tanya raja.
"Dia
sedang berburu di hutan," jawab Mogogunoi.
Raja pun berkata, "Aku
datang untuk membunuhnya dan menjadikanmu istriku. Maukah engkau, Mogogunoi yang
cantik, menjadi istriku?"
Pura-pura
setuju, Mogogunoi menjawab, "Dengan senang hati, karena Matindas itu
sebenarnya orang yang acuh tak acuh dan pemalas. Tetapi kita harus sangat
berhati-hati, karena seluruh penduduk desa ini adalah keluarga Matindas. Mereka
akan membunuh kita berdua jika tahu kita melarikan diri. Supaya aman, sebaiknya
Anda mengenakan pakaian dan topeng Matindas serta meniru kebiasaannya. Dengan
begitu, keluarganya akan mengira Anda adalah Matindas, dan kita bisa pergi
menuju kapal tanpa bahaya."
Akhir dari Sang Raja
Menganggap saran itu sangat masuk
akal, sang raja langsung berganti pakaian dan mengenakan topeng Matindas. Ia
lalu berkata, "Ayo, mari kita pergi sekarang!"
Mogogunoi menahannya sejenak, "Baiklah,
tetapi Matindas biasanya berjalan di depan, melompat turun dari anak tangga
ketiga, lalu membawakan tari perang di halaman sebelum aku mengikutinya. Mari kita lakukan hal yang
sama."
Raja
menuruti petunjuk itu. Saat melompat ke halaman dan menari sambil mengibaskan
pedangnya ke udara, Mogogunoi tiba-tiba berteriak keras kepada pasukan prajurit
raja yang menunggu di luar, "Lihat, itu Matindas! Bunuh dia!"
Mengira
orang bersenjata dan bertopeng yang sedang menari itu adalah Matindas, para
prajurit langsung menyerbu dan membunuhnya seketika, sesuai perintah sang raja
sebelumnya. Namun saat mereka membuka topengnya, betapa terkejutnya mereka
ketika menyadari bahwa orang yang mereka bunuh adalah raja mereka sendiri.
Ketakutan yang amat sangat melingkupi pasukan itu, hingga mereka lari
berhamburan meninggalkan desa.
Dengan
kecerdikan dan keberaniannya, Mogogunoi berhasil menjaga kehormatannya
sekaligus menyelamatkan nyawa suaminya. Setelah keadaan aman dan para
prajurit melarikan diri, Matindas keluar dari dalam peti persembunyiannya. Sejak saat itu, mereka berdua hidup
bahagia bersama.
PINGKAN MATINDAS
Oleh ; HERSEVIEN
M. TAULU, Bintang Minahasa.
Dalam buku : Drewes,
G. W. J. A Modern Malay Reader: With a Glossary. Servire, 1947.
„Pingkan”, kata Matindas,
„biarlah saja sendiri pergi kekeboen, tinggallah engkau menoenggoe roemah
kita!”
„Ah, Matindas...”, sahoet Pingkan
dengan soeara jang memiloekan hati, „biarlah saja mengikoet sadja, soepaja kita
bekerdja bersama-sama. Djanganlah dipaksa saja tinggal seorang diri diroemah;
tiada tertahan oléhkoe bertjerai dengan engkau sekian lama. Soenji senjap benar
rasanja disitoe kalau engkau tiada ada pada sisikoe”.
„Sesoenggoehnja engkau sangat
tjinta akan saja”, kata Matindas lagi; „sajapoen demikian poela. Mémang hati
saja sebenarnja tiada maoe meninggalkan dikau, Pingkan...; tetapi apakah hendak
kita boeat soepaja kehidoepan kita djangan soesah?”
„Biarlah kita bekerdja
bersama-sama dikeboen setiap hari”, djawab Pingkan dengan péndék.
„Baiklah”.
Maka bekerdjalah kedoeanja setiap
hari membanting toelang mentjaharikan nafakahnja. Semoea orang jang
melihat keradjinan kedoeanja, terlebih lagi melihat kerdja Pingkan, berkata:
„Bidadari Tanahwangko bekerdja berhoedjan dan berpanas, nistjaja segera djoega
lenjap keélokannja”.
Apabila Pingkan meendengar
bisikan orang demikian, djawabnja: „Inilah kewadjibankoe jang teroetama, ja'ni
membantoe laki mentjahari nafakah. Tentoe tiada patoet bagikoe membiarkan laki
bekerdja sendiri mati-matian sepandjang hari, sedang akoe tinggal bersenang-senang
sadja diroemah. Bagaimanakah pikiranmoe?”
Berapa banjaknja laki-laki jang
memoedji-moedji akan dia, seraja katanja dalam hati: „Alangkah berbahagianja
mempoenjaï isteri jang demikian. Berapa banjak pemoeda jang soedah memenang
perempoean ini dahoeloe, tetapi semoeanja ketjéwa. Matindas dan Pingkan sebagai
aoer dengan tebing, tolong-menolong dan sama-sama radjin”.
Ada poela jang ta'adjoeb melihat
meréka tiada bertjerai-tjerai itoe, sehingga mengeloearkan pertanjaan: „Apa
sebabnja meréka itoe selaloe bersama-sama sadja; beloem pernah saja lihat
bertjerai? Barangkali Matindas takoet isterinja dilarikan orang; pada hal,
dinegeri kita ini tidak boléh djadi ta' ada orang perampas; orang Mindanau
ada!”
„Hal itoe saja koerang mengerti;
boléh djadi sebaliknja; Pingkan ta' maoe membiarkan Matindas pergi kemana-mana
seorang diri”, sahoet jang lain itoe.
„Tidak héran kedoeanja sangat
kasih-mengasihi. Sedjak moeda kedoeanja soedah berkenalan, bahkan Matindas
soedah beberapa kali menolong Pingkan dalam bahaja jang besar. Péndéknja
Pingkan hidoep karena Matindas; dan kini Pingkan menjatakan terima kasihnja kepada
Matindas”.
„Tjoba
pikir! Hitoenglah pemoeda disini sana, jang soedah memenang dia. Orang jang
mengehendaki dia, boekan sadja karena keélokannja, Berikut adalah transkripsi teks dari gambar sesuai
dengan ejaan aslinya (ejaan lama):
poen karena keradjinannja jang
loear biasa. Diantara pemoeda-pemoeda itoe saja jang teroetama soedah...
meminta kawin padanja; tetapi tiada berhasil. Matindas poenja oentoeng. Mémang
patoet! Ta' goenanja lagi kita memperbintjangkan dia!"
Demikianlah dimana-mana
kedengaran orang mempertjakapkan Pingkan, baik orang toea, baikpoen orang
moeda; teroena-teroena djangan dikata lagi. Ada jang tjemboeroe hatinja, ada
jang memoedji Pingkan karena ia tahoe berterima kasih kepada Matindas.
Lama kelamaan, maka Matindas
beringin poela hendak pergi kelaoet menangkap ikan. Keinginannja itoe makin
lama makin keras, sehingga ta' dapat ditahannja lagi; roepa-roepanja ada
sesoeatoe kekoeatan jang menarik-narik dia kelaoet. Maka maksoednja itoe disampaikannjalah
kepada isterinja, katanja; „Ja, isterikoe jang koekasihi, saja ta' dapat lagi
menahan keinginan saja akan mentjahari penghidoepan dilaoet. Bagaimanakah
pikiranmoe?”
Mendengar perkataan soeaminja
demikian, maka sahoet Pingkan: „Djanganlah pergi! Tiadakah tjoekoep
penghidoepan kita sekarang?”
„Saja tiada mendapat kesenangan
badan, kalau ta' toeroen kelaoet”, kata Matindas poela.
„Biarlah saja bekerdja lipat
ganda lagi dari pada sekarang, ta' mengapa, asal engkau tidak pergi ketempat
jang berbahaja itoe”.
„Berbahajakah pentjaharian
dilaoet?”
„Ja, apalagi sekarang moesim
barat, gelombangnja besar-besar, setinggi-setinggi roemah”.
„Kalau saja tiada pergi,
isterikoe jang koekasihi... berani saja mempestikan, bahwa saja akan ditimpa
penjakit. Kebiasaan saja mentjahari ikan dilaoet roepanja soedah mendjadi darah
daging bagi saja; djadi ta' boléh dihilangkan lagi. Izinkanlah lakimoe kesana
dalam beberapa hari ini djoega!” kata Matindas memboedjoek isterinja.
„Matindas... tiadakah engkau
kasih akan isterimoe...?” tanja Pingkan dengan soeara jang amat lemah lemboet,
dan toeboehnja telah lemah loenglai, laloe direbahkannja dihadapan lakinja. Air
matanjapoen toeroenlah membasahi pipinja jang telah soeram karena kesedihan
itoe.
Matindas teroes mengambil akan
dia, dipangkoenja, dipeloeknja, ditjioemnja dan diboedjoeknja dengan pelbagai
tjoemboe-tjoemboean, katanja: „Adoehai isterikoe... tjahaja mata kakanda!
Mengapa engkau membawa pertanjaan jang demikian kepada kakanda? Ataukah saja
tiada kasih akan dikau? Pingkan... kepadamoelah bergantoeng njawa kakanda,
tiada soeatoe apa jang kakanda kasihi didalam doenia ini terlebih-lebih, hanja
engkaulah. Kakanda menoeroet akan katamoe, djanganlah lagi menangis!”
Pingkan bangoenlah
perlahan-lahan, seraja ia membalas tjioem soeaminja dengan tjioem jang
manis-manis poela, seraja katanja: „Djiwakoe telah selamat poela sekali ini!”
„Mengapa?”
„Ja... karena engkau kasih djoega
roepanja akan...” Berikut adalah transkripsi teks dari gambar sesuai dengan
ejaan aslinya (ejaan lama):
„...Pingkan!”
„Soedah saja katakan tadi,
biarlah saja bekerdja lebih berat lagi, asal engkau djangan pergi membawa
dirimoe kekoeboer. Tiadakah engkau dengar hal beberapa orang nelajan kemarin
doeloe, perahoenja terbalik dibantingkan gelombang? Oentoeng benar kesemoeanja
pandai berenang; djadi sampai djoega meréka kedarat, meskipoen dengan
beriboe-riboe kesoekaran. Saja akan bersoeka-tjita sekali, apabila engkau maoe
menoeroet perkataan isterimoe jang bebal ini”.
„Djangan poela menoeroet
perkataanmoe jang semoedah ini, walau kausoeroeh memindahkan goenoeng Lokon,
Kelabat dan Sopoetan kesebelah barat negeri Tanahwangko ini sekalipoen, saja
kerdjakan djoega”.
Beberapa hari kemoedian dari pada
itoe, maka Matindas merasa dirinja koerang segar; tetapi tiada dikabarkannja
kepada isterinja. Isterinja amatlah héran melihat hal lakinja demikian.
Makannja koerang sedikit dari biasa; bitjaranja tiada koeat, sikapnja tiada
gagah lagi dan moekanja makin lama makin koeroes.
„Matindas, apakah jang koerang
padamoe?” tanja Pingkan kepada Matindas.
„Seloeroeh badan saja lemah”.
„Apa sebabnja?”
„Tidak tahoe”.
„Ta' adakah bangsa
toemboeh-toemboehan jang boléh diboeat obat minoem akan mengélakkan penjakitmoe
itoe?” tanja Pingkan poela dengan chawatirnja.
„Saja koerang periksa poela,
matjam roempoet mana jang boléh diambil”, djawab Matindas.
Sementara
itoe dapatlah pikiran kepada Matindas akan memboeat doea patoeng. Moela-moela
diambilnja kajoe jang lemboet oentoek pertjobaan. Setelah ditjobakannja
beberapa kali, dilihatnja makin lama makin haloes dan makin bagoes djoega
boeatannja; maka pikirnja: „Baiklah akoe memboeat patoeng Pingkan dan patoeng
itoe koebawa kemana-mana akoe pergi. Kalau patoeng itoe djadi, koeboeat poela
seboeah patoeng jang moekanja sama benar dengan moekakoe; moedah-moedahan ada
djoega goenanija bagi isterikoe kelak”.
Maka
ditjarinjalah soeatoe matjam kajoe jang baik, laloe dimoelaïnjalah
mengerdjakannja. Makin lambat dikerdjakannja, makin élok patoeng itoe dan
kira-kira tiga belas hari kemoedian, sedialah patoeng Pingkan itoe. Semoea
orang jang melihat patoeng Pingkan héran sebesar-besar héran, karena
keélokannja jang tiada berbanding itoe.
„Wah!!”
kata orang sambil menggéléng-géléngkan kepalanja; „pandai sekali Matindas ini.
Dari mana ia mendapat 'ilmoe itoe??”
„Itoelah
soeatoe karoenia Ilah kepadanja”, djawab orang jang lain. „Mémang
Matindas seorang jang sabar, baik dalam berpikir, baik dalam pekerdjaan. Hal
itoe soedah banjak kali dilihat dalam pergaoelan hidoep kita dengan dia.
Pergilah lihat dibawah roemahnja, berapa banjak poela patoeng jang diboeatnja
oentoek pertjobaan!” Berikut adalah transkripsi teks dari gambar sesuai dengan
ejaan aslinya (ejaan lama):
Maka Matindaspoen moelaïlah poela
memboeat patoengnja sendiri. Setelah hampir sedia maka katanja kepada
isterinja: „Lihatlah oléhmoe baik-baik, soedahkah sama moeka patoeng ini dengan
moekakoe?”
„Beloem!” djawab isterinja; „ada
lagi perbédaannja, jaïtoe hidoeng dan mata. Hidoeng patoeng ini roepanija
tinggi sedikit dari pada hidoengmoe dan matanja terlaloe ketjil”.
Maka bimbanglah Matindas
memikirkan, bagaimana hendaknja mengoebah moeka patoeng itoe, sehingga sama
betoel dengan moekanja, sedang ia sendiri tiada mengenal betoel akan moekanja.
Ditjaharinja roepa-roepa 'akal akan mengetahoei bentoek moeka dan hidoengnja,
tetapi sia-sia sahadja. Maka timboellah dalam hatinja akan membiarkan
patoengnja, sebagaimana adanja sadja.
Pada soeatoe pagi, ketika ia
toendoek hendak menjiangi tanaman jang dikeliling pondok dalam keboennja, maka
terlihatlah oléhnja bajang-bajang moekanja pada air emboen jang terkoempoel
pada sehelai daoen. Maka diselidikinjalah baik-baik akan moekanja, meskipoen
koerang terang sedikit, laloe pergilah ia meneroeskan pekerdjaannja jang telah
terbengkalai itoe. Tiada lama kemoedian maka selesailah patoeng itoe. Betapa
besar hati kedoea laki isteri itoe tiada dapat dikatakan lagi, hanja jang kita
ketahoei, ialah selama doenia ini ditempati oléh manoesia, barangkali beloem
ada seboeah roemah tangga djoea jang kesenangannja dapat menjamaï oedjoeng
kesenangan roemah tangga Pingkan dan Matindas itoe.
„Miskin badan, kaja hati”,
itoelah peri bahasa jang selaloe dikatakan oléh kedoea laki isteri jang rendah
hati itoe.
„Pingkan...” kata Matindas, „saja
tiada dapat bertjerai dengan engkau, demikian djoega sebaliknja, engkau tiada
maoe djaoeh dari pada saja; tetapi dengarlah dahoeloe oléhmoe: penjakit saja
ini tidak lain dari pada keinginan jang telah sampai kepoentjoeknja hendak
menempoeh laoetan. Dari ketjil saja hidoep diair, sekarang telah tertahan,
boekan oléh siapa, melainkan oléh ketjintaan saja kepadamoe. Sekarang saja
telah memboeat doea boeah patoeng, seboeah oentoek engkau dan seboeah poela
oentoek saja, selama kita bertjerai. Saja bermaksoed akan pergi djoega kelaoet;
biarlah patoengmoe saja bawa serta, soepaja engkau selaloe serasa ada sisisi
saja dan patoeng saja, saja tinggalkan padamoe akan mendjadi temanmoe
sepeninggal saja... Senangkah hatimoe?”
Maka Pingkanpoen berpikirlah
sedjoeroes, laloe djawabnja: „Baiklah”.
Mendengar perkataan itoe, maka
Matindaspoen melompat dari tempat doedoeknja, datang kepada Pingkan, laloe
ditjioemnja seraja katanja: „Pingkan... nafas kakanda! Kasih kakanda telah
bertambah berlipat ganda poela, karena adinda mengaboelkan permintaan kakanda”.
„Tetapi djanganlah dahoeloe pada
hari ini, karena hari ini roepanja tiada baik”, kata Pingkan.
„Tidak mengapa”, djawab Matindas
sambil mentjioem bidadarinja poela; „asal adinda izinkan”.
Maka kata Pingkan poela:
„Haroeslah hati-hati dan tangkas dalam Berikut adalah
transkripsi teks dari gambar sesuai dengan ejaan aslinya (ejaan lama):
sebarang pekerdjaan, soepaja
selamat pada achirnja”.
„Djangan takoet!” sahoet Matindas
sambil tertawa-tawa.
„Baiklah!” djawab Pingkan.
Pada keésokan harinja, sebeloem
matahari terbenam, Matindaspoen menjediakanlah soeloeh dan memperbaiki
perahoenja. Setelah sedia semoeanja maka katanja kepada isterinja: „Tinggallah
engkau baik-baik, djangan chawatir, persenang sadjalah hatimoe!”
„Kalau kaulihat soeatoe tanda
hari boeroek akan tiba baiklah lekas-lekas poelang!”
„Tentoe sekali; siapa maoe
bertentangan dengan moesoeh jang tidak teralahkan”.
„Nah, kalau begitoe
berangkatlah!”
Setelah diambilnja patoeng
Pingkan, laloe iapoen pergilah. Sementara berkajoeh, maka hatinja
berdebar-debar matjam merasa ketakoetan; oléh sebab itoe ia menéngok kekiri,
kekanan dan keatas, memeriksa kalau-kalau angin riboet hendak toeroen; tetapi
dilihatnja langit bersih sadja sebagai disapoe, sedikitpoen tidak berawan;
apalagi segala bintang-bintang jang berdjoeta-djoeta banjaknja, roepanija tiada
seboeah djoega jang bersemboenji, ta' ada jang tiada memantjarkan tjahajanja
jang gilang-gemilang itoe. Perasaan ketakoetan didalam hatinjapoen hilanglah,
setelah melihat dan memeriksa keadaan 'alam pada ketika itoe.
„Djalan teroes!” perintahnja
kepada dirinja sendiri, sambil ia berkajoeh sekoeat-koeatnja menoedjoe tempat
jang dirindoekannja.
„Moestahil toeroen riboet pada
malam ini”, katanja poela dalam hati; „malam terang tjoeatja, beloem pernah
koedapati begini, sedjak akoe tahoe menempoeh laoetan”.
Pada seketika itoe djoega
terbajanglah moeka isterinja diroeangan matanja; dilihatnja sedang menangis,
tidak tahoe apa sebabnja. Dalam pemandangan itoe tampak oléhnja Pingkan memberi
isjarat kepadanja, djangan ia meneroeskan pelajaran itoe. „Apakah gerangan
maksoednja ini...?” mikirnja didalam hati. Ia termenoeng memikirkan 'alamat
penglihatannja itoe, sehingga tiada diketahoeinja pengajoehnja telah terlepas
dari tangannja. Baik benar pangkal kedoea pendajoengnja terikat pada pinggir
perahoe itoe. Achirnja sadarlah poela ia dari pada kebimbangannja, laloe
katanja: „Sia-sia akoe memikirkan dia lebih djaoeh... Teroes sadja!”
Maka sampailah ia ketempat jang
ditoedjoenja. Baroe kira-kira sepertanak nasi lamanja ia disana, tiba-tiba
toeroenlah angin riboet jang amat kentjang. Ditjaharinja roepa-roepa 'akal akan
mengélakkan bahaja itoe, sedikitpoen tiada bergoena; perahoenja djadilah
laksana saboet njioer permainan gelombang. Maka hantjoerlah perahoe itoe
dipoekoel gelombang. Matindas memeloek akan boeloeh bekas semah-semah (tjadik)
perahoenja, laloe membiarkan dirinja kesana kemari dilémparkan gelombang.
Ia mengedjamkan matanja, tetapi
pikirannja tiada bimbang; katanja: „Biar bagaimana sekalipoen tiada maoe akoe
melepaskan boeloeh ini”.
Kemoedian maka datanglah seboeah
gelombang jang besar melémpar- Berikut adalah
transkripsi teks dari gambar sesuai dengan ejaan aslinya (ejaan lama):
kan dia kedarat. „Adoeh!”
seroenja karena ia merasa toeboehnja amat kesakitan, laloe iapoen pingsanlah.
Maka terseboetlah beberapa orang
Mindanau pergi mengintai tawanan kedaérah tempat itoe. Waktoe angin riboet
hendak toeroen tadi perahoe meréka itoe dikandaskannja kedarat, soepaja djangan
dibawa gelombang. Setelah angin riboet itoe redalah, maka pergilah meréka itoe
mendapatkan perahoenja hendak poelang kenegerinja.
„Sial benar kita kali ini, tiada
mendapat tawanan barang seorang djoeapoen”, kata seorang.
„Tadi pagi saja melihat orang
berdjalan melaloei hoetan; tetapi banjak benar meréka sekawan; djadi amat
soelit diserang”, kata jang seorang poela.
„Sedjak beberapa tahoen ini,
makin awaslah orang disini, tiada maoe lagi berdjalan berdoea bertiga, apalagi
seorang diri”, sahoet jang lain poela, sambil menggéléng-géléngkan kepalanja.
„Baiklah kita ke Oewoeran
(sekarang dinamai „Amoerang”) lagi!”
„Tidak
oesah, nanti, kali lain sadja!”
„Ah,
saja telah bertaroeh dengan kepala-kepala kampoeng kita, bahwa saja dengan
pesti akan mengantarkan kepada meréka itoe seorang laki-laki jang koeat. Ini
kosong sadja, tentoelah saja kalah”.
„Kemana lagi engkau hendak
mengintai?”
„...Manoesia, manoesia!” teriak
jang seorang, sambil ia berlari-lari menoedjoe seorang laki-laki jang terbaring
dipasir. Maka berkeroemoenlah meréka itoe sekalian kepada orang jang terbaring
itoe.
„Majat barangkali”.
„Beloem mati, lihatlah peroetnja
toeroen naik”.
„Periksa nafasnja”.
Maka seorang meledapkan djarinja
kemoeka hidoeng orang itoe, laloe katanja: „Masih hidoep! Masih hidoep!”
„Moedjoer!”
„Tentoe ia pingsan dilémparkan
oléh gelombang; lihatlah ia memeloek boeloeh, bekas semah-semah perahoe”.
„Kalau begitoe, baiklah kita
lekas sadja berangkat membawa dia. Kalau ia nanti sedar, kita soedah ditengah
laoet. Sérét sadja perahoe kita kemari”, perintah kepala meréka itoe.
Maka bertolaklah meréka itoe.
Setelah sedjoeroes lamanja dipelajaran, maka meréka itoepoen menjaoek air
laoet, laloe dititiskannja kemoeka orang jang pingsan itoe.
„Pingkan...! Pingkan...!” kata
orang itoe tiba-tiba dengan soeara jang amat lemah lemboet, sambil ia bergerak
hendak memoetar badannja.
„Dengarlah oléh kamoe”, bisik
seorang; „ia memanggil iboenja, atau saodaranja barangkali”.
„Biarkan sadja ia bermimpi! Pada
sangkanja ia ada ditempat tidoer didalam roemahnja”, kata penghoeloe orang
Mindanau itoe sambil tertawa-tawa; „moestahil dapat ia melarikan diri lagi”.
Tiada lama kemoedian maka orang
itoepoen memboeka mata, laloe
Berikut adalah transkripsi teks
dari gambar sesuai dengan ejaan aslinya (ejaan lama):
melihat kekiri dan kekanan,
memperhatikan dimanakah ia pada ketika itoe. Setelah itoe dipedjamkannja poela
matanja, karena pada sangkanja ia bermimpi sadja, djadi bimbanglah ia.
Sementara itoe didengarnja orang berbisik-bisik, tetapi tiada ia mengerti apakah
jang dibisikkannja. Sebab itoe terperandjatlah ia laloe hendak bangoen.
„Adoeoeoeoeh!” teriaknja, sebab
ia merasa poenggoengnja amat sakit. Ia memandang kepada orang jang ada dimoeka
dan dibelakangnja: „Wahai, djiwakoe! Akoe telah terserah kedalam tangan moesoeh
jang bengis”, katanja dalam hati. „Atau bermimpikah akoe ini? Moedah-moedahan
benarlah persangkaankoe”, sambil ia mengangkat kepalanja poela, dan dilihatnja
sebagai tahadi djoega. Dan lagi terasa oléhnja, bahwa ia dalam perahoe,
ditengah laoetan besar. Maka terkenanglah ia akan bahaja jang menimpa dia tadi
malam.
„Sesoenggoehnja akoe ini si Lebai
Malang. Lepas dari terkaman harimau, djatoeh kedalam moeloet boeaja. Apakah
'akalkoe sekarang akan melepaskan dirikoe dari tangan perompak ini? Berenang...
ta' moengkin, Lebih baik akoe menyerahkan njawakoe sadja dalam tangan Empoing
Walian jang mendjadikan langit dan boemi... Adoeh isterikoe jang koekasihi!”
katanja poela dalam hati; „djikalau kiranja lakimoe mengetahoei lebih dahoeloe
apa maksoed penglihatan lakimoe kemarin, nistjaja tiadalah ia meneroeskan
pekerdjaannja jang sial itoe”.
Maka iapoen merebahkan dirinja
jang amat lemah itoe keatas barang-barang rampasan; setelah itoe ia tiada
bergerak-gerak lagi, sebagai orang mati.
Berapa lamanja berlajar, maka
orang Mindanau itoepoen membangoenkan dia, mengadjak makan oebi, sagoe dan
lain-lainnja; tetapi tiada ia maoe makan, karena pada pikirnja, lebih baik ia
mati sadja dari pada hidoep dalam sengsara. Penghoeloe orang perompak itoepoen
bangoenlah datang mendekati dia, laloe mengadjak dia bertjakap-tjakap. Akan
tetapi kedoeanja tiada dapat mengerti akan bahasa masing-masing; maka
penghoeloe itoepoen memberi isjarat kepadanja akan mengatakan namanja. Orang
itoe menoendjoek kepada dirinja seraja berkata: „Matindas!”
Matindaspoen teradjaklah poela
hatinja hendak bertjakap-tjakap dengan penghoeloe itoe. Maka pikirnja: „Pada
soeatoe masa kamoe semoea akan koetipoe djoega. Baiklah akoe mena'loekkan diri
benar-benar dahoeloe kepadamoe, akoe toendjoekkan bahwa akoe ini perompak jang
sebenar-benarnja. Apabila kamoe telah pertjaja benar akan dakoe, tentoe pada
ketika itoelah waktoe jang baik bagikoe akan melarikan diri. Mesti djadi...!”
laloe ia poera-poera menggosok peroetnja, memberi isjarat meminta makanan.
Maka penghoeloe itoepoen
menjoeroeh mengeloearkan sisa meréka itoe, laloe diberikannja kepada Matindas.
Meskipoen Matindas tiada biasa akan makanan jang dimasak demikian, dipaksanja
djoega kerongkongannja menelan dia, agar soepaja ia selaloe koeat, sehingga
boléh meneroeskan niatnja. Diisjaratkannja djoega meminta obat akan pengoeroet
belakangnja jang sakit itoe.
Berikut adalah transkripsi teks
dari gambar sesuai dengan ejaan aslinya (ejaan lama):
Kira-kira enam hari enam malam
meréka itoe berlajar, maka sampailah kenegeri orang Mindanau itoe. Disana
selaloe Matindas menoendjoekkan setianja, baik dalam merompak kepoelau-poelau
Sangihe dan Talaoede (Sangi dan Talaoet), baikpoen kemana-mana. Terlebih poela
dalam perkelahian, sehingga selaloe ia dipoedji orang, karena selaloe
mengalahkan moesoehnja. Disana orang-orang tawanan diadoe sebagai ajam saboeng,
dengan memakai pisau atau keris. Dari kiri kanan datanglah orang menawar
Matindas, tetapi toeannja sama sekali tiada maoe mendjoeal dia, karena ia telah
mendjadi kaja oléh taroeh jang diperoléh Matindas itoe. Maka
bertambah-tambahlah kasihnja akan Matindas dan soedah banjak kali dibiarkannja
ia bekerdja seorang diri, tiada didjaga lagi atau dimasoekkan kedalam kandang
sebagai babi. Orang jang gemoek tetapi malas disembelih oléh meréka oentoek
dimakan.
Pada soeatoe hari toeannja
dipanggil orang, hendak didjamoenja. Hampir
sekalian orang toea-toea didalam kampoeng itoe dipanggil keperdjampoean itoe.
Maka tinggallah Matindas dipondok bersama-sama dengan seorang perempoean toea.
Maka tanja Matindas kepada perempoean toea itoe: „Kemanakah meréka itoe pergi?”
„Pergi keperdjampoean dikampoeng
jang lain”, djawab perempoean toea.
„Djaoehkah kampoeng itoe dari
sini?”
„Perdjalanan sehari doea malam”.
„Soedah djadi!” katanja dalam
hati; „waktoe inilah jang sangat koerindoei itoe”.
„Néné'!” seroenja kepada
perempoean toea itoe; „saja ingin hendak mengikoet kesana”.
Djawab perempoean itoe: „Djangan,
lebih baik engkau pergi mengambil kajoe api!”
Matindas tiada berpikir pandjang
lagi, karena kesoekaannja laloe sahoetnja: „Baiklah!” Maka bekerdjalah ia
sekoeat-koeatnja sehari itoe, sehingga perempoean itoe sangat bersoekatjita
melihat halnja. Pada malam itoe, setelah tidoer perempoean toea itoe, keloearlah
Matindas perlahan-lahan, laloe dibisikkannja kepada doea orang Siauw jang
dikoeroengkan didalam kandang: „Marilah kamoe keloear ikoetlah akan dakoe!”
sambil ia memboeka pintoe kandang itoe.
„Kami takoet!”
„Bodoh! Ikoet sadja, ta' oesah
takoet! Sekarang kita lari”, kata Matindas dengan pandak, seraja memaksa meréka
itoe.
„Kemana?”
„Poelang kenegeri”.
„Perahoe kita tidak ada”.
„Ada!”
„Djangan-djangan kita disoesoel
oléh meréka itoe”.
„Omong kosong. Kalau kamoe soeka
disembelih, tinggallah disini!”
„Kami ikoet”.
Maka berdjalanlah ketiganja
boeroe-boeroe menoedjoe kepantai,
Berikut adalah transkripsi teks
dari gambar sesuai dengan ejaan aslinya (ejaan lama):
ketempat toean meréka itoe
mengandaskan perahoenja. Dengan tiada mengeloearkan kata sepatahpoen, ketiganja
menjérét perahoe itoe keair, laloe naik.
„Kamoe mengajoeh, saja pegang
kemoedi, sebab saja jang mengetahoei djalan jang haroes kita ambil, soepaja
kita djangan bertemoe poela dengan moesoeh jang lain. Makanan hanja tjoekoep
bagi kita bertiga tiga hari, djadi haroes kentjang”, perintah Matindas sambil
ia menengadah kelangit memperhatikan tempat bintang-bintang. „Kita haroes
kebarat-daja dahoeloe!”
Oentoeng benar tiada loepa ia
akan perdjalanan bintang-bintang jang diadjarkan oléh nénéknja dahoeloe
kepadanja, dan jang diadjarkan oléh penghoeloe perompak itoe kepadanja selama
ia mengikoet merompak kemana-mana. Sementara berlajar itoe tiada berhenti-hentinja
Matindas menghiboer-hiboerkan temannja, katanja: „Moestahil dapat meréka itoe
menjoesoel, kalau kiranja meréka itoe menjoesoel kita. Sampai kini soedah empat
hari lima malam kita dalam pelajaran, beloem ada lagi tanda-tanda, bahwa
pelajaran kita boléh terganggoe. Hanja kita haroes menghématkan makanan; bagi
saja ta' perloe makan doea hari ini”.
„Mengapa?”
„Saja merasa koeat, saja boléh
dipakai lagi doea hari”.
„Biar tidak makan lagi, asal
soedah dekat”, kata seorang.
„Bagaimanakah
hal kita ini?” tanja Matindas kepada kedoea temannja. „Kamoe orang Siauw, djadi
tidak djaoeh lagi, sedang saja orang Tanahwangko, masih djaoeh”.
Maka
beroending-roendinglah meréka itoe; achirnja kata kedoea orang Siauw itoe:
„Kami tidak maoe lagi poelang kenegeri kami; kami akan mengikoet engkau sadja”.
„Tidak lagi kamoe beriboe-bapa?”
„Iboe bapa saja meninggal selagi
saja ketjil, djadi tiada saja mengenal bagaimana roepa meréka itoe”, kata
seorang dengan soeara jang mengibakan hati.
„Iboe saja soedah lama meninggal,
tetapi bapa beloem lama”, kata seorang poela.
„Sanak saodara kamoe?”
„Nanti lain kali kami
mengoendjoengi meréka itoe, sekarang beloem, baiklah kita meneroeskan pelajaran
kita ke Tanahwangko sadja!”
„Baiklah!” djawab Matindas.
„Makin kentjang kita berkajoeh makin baik dan makin tjepat tertjapai maksoed
kita”.
Pada hari jang kedelapan waktoe
pagi-pagi sekali, tampaklah poentjak goenoeng Kelabat disebelah tenggara,
poetih dilipoeti awan; makin lama makin dekat. Maka terkenanglah poela Matindas
akan Pingkan, djantoeng hatinja; karena rindoenja itoe, maka berkajoehlah ia
sekoeat-koeatnja menoedjoe tanah toempah darahnja, jang toemboeh-toemboehannja
telah njata kelihatan, seolah-olah melambai-lambaikan tangannja memberi selamat
datang kepadanja.
HERSEVIEN M.
TAULU, Bintang Minahasa.
Terjemahan ke Bahasa Indonesia :
PINGKAN DAN MATINDAS
Bab 1: Kebersamaan di Ladang
"Pingkan," kata
Matindas, "biarlah aku sendiri yang pergi ke kebun, tinggallah engkau
menjaga rumah kita!"
"Ah, Matindas...,"
sahut Pingkan dengan suara yang memilukan hati, "biarlah aku ikut saja,
supaya kita bisa bekerja bersama-sama. Janganlah paksa aku tinggal sendirian di
rumah; aku tak tahan berpisah denganmu sekian lama. Rasanya sunyi senyap sekali
di sana kalau engkau tidak ada di sisiku."
"Sesungguhnya engkau sangat
mencintaiku," kata Matindas lagi, "aku pun demikian pula. Memang
hatiku sebenarnya tidak mau meninggalkanmu, Pingkan... Tetapi apa yang harus
kita buat supaya kehidupan kita tidak susah?"
"Biarlah kita bekerja
bersama-sama di kebun setiap hari," jawab Pingkan singkat.
"Baiklah."
Maka bekerjalah keduanya setiap
hari membanting tulang mencari nafkah. Semua orang yang melihat kerajinan
mereka—terlebih lagi melihat kerja Pingkan—berkata: "Bidadari Tanahwangko
bekerja berhujan dan berpanas terik, niscaya kejelitaannya akan segera
lenyap."
Apabila Pingkan mendengar bisikan
orang-orang tersebut, ia menjawab: "Inilah kewajibanku yang utama, yaitu
membantu suami mencari nafkah. Tentu tidak patut bagiku membiarkan suami
bekerja sendiri mati-matian sepanjang hari, sementara aku tinggal bersenang-senang
saja di rumah. Bagaimanakah menurut pikiranmu?"
Banyak laki-laki yang memuji-muji
dirinya seraya berkata dalam hati: "Alangkah bahagianya memiliki istri
yang demikian. Berapa banyak pemuda yang sudah meminang perempuan ini dahulu,
tetapi semuanya kecewa. Matindas dan Pingkan bagaikan aur dengan tebing,
saling menolong dan sama-sama rajin."
Ada pula yang takjub melihat
mereka tak pernah berpisah, hingga melontarkan pertanyaan: "Apa sebabnya
mereka selalu bersama-sama saja? Belum pernah aku melihat mereka berpisah.
Barangkali Matindas takut istrinya dilarikan orang; padahal di negeri kita ini
rasanya tidak mungkin tidak ada perampas—orang Mindanao saja ada!"
"Hal itu kurang kupahami;
bisa jadi sebaliknya, Pingkan yang tidak mau membiarkan Matindas pergi ke
mana-mana seorang diri," sahut yang lain.
"Tidak heran mereka sangat
saling mengasihi. Sejak muda keduanya sudah berkenalan, bahkan Matindas sudah
beberapa kali menolong Pingkan dalam bahaya besar. Pendeknya, Pingkan hidup
karena Matindas; dan kini Pingkan menyatakan terima kasihnya kepada Matindas."
"Coba
pikir! Hitunglah pemuda di sana-sini yang pernah meminangnya. Orang yang
menginginkannya bukan saja karena kejelitaannya, tetapi juga karena
kerajinannya yang luar biasa. Di antara pemuda-pemuda itu, akulah yang terutama
pernah meminta menikah dengannya, tetapi tidak berhasil. Matindas memang
beruntung. Memang pantas! Tak ada gunanya lagi kita memperbincangkannya!"
Demikianlah
di mana-mana terdengar orang mempercakapkan Pingkan, baik orang tua maupun
orang muda; para pemuda apalagi. Ada yang cemburu hatinya, ada pula yang memuji
Pingkan karena ia tahu berterima kasih kepada Matindas.
Bab 2: Keinginan Melaut dan
Pembuatan Patung
Lama-kelamaan, Matindas
berkeinginan lagi untuk pergi ke laut menangkap ikan. Keinginan itu makin lama
makin kuat hingga tak dapat ditahannya lagi; seolah-olah ada suatu kekuatan
yang menarik-narik dirinya ke laut. Maksudnya itu disampaikan kepada istrinya,
katanya: "Ya, istriku yang kukasihi, aku tak dapat lagi menahan
keinginanku untuk mencari penghidupan di laut. Bagaimanakah pikiranmu?"
Mendengar perkataan suaminya
demikian, Pingkan menyahut: "Janganlah pergi! Tidakkah cukup penghidupan
kita sekarang?"
"Aku tidak merasa tenang
badanku kalau tidak turun ke laut," kata Matindas pula.
"Biarlah aku bekerja
melipatgandakan usahaku dari yang sekarang, tak mengapa, asal engkau tidak
pergi ke tempat yang berbahaya itu."
"Apakah
berbahaya mata pencaharian di laut?"
"Ya,
apalagi sekarang musim barat, gelombangnya besar-besar setinggi rumah."
"Kalau
aku tidak pergi, istriku yang kukasihi... aku berani memastikan bahwa aku akan
ditimpa penyakit. Kebiasaanku mencari ikan di laut rupanya sudah mendarat
daging bagiku, jadi tidak bisa dihilangkan lagi. Izinkanlah suamimu ke sana
dalam beberapa hari ini juga!" kata Matindas membujuk istrinya.
"Matindas...
tidakkah engkau kasih kepada istri mu...?" tanya Pingkan dengan suara yang
amat lemah lembut. Tubuhnya menjadi lemah lunglai, lalu ia merebahkan diri di
hadapan suaminya. Air matanya pun menetes membasahi pipinya yang suram karena kesedihan
itu.
Matindas
segera merangkulnya, memangku, memeluk, mencium, dan membujuknya dengan
pelbagai cumbu rayu. Katanya: "Aduhai istriku... cahaya mataku! Mengapa
engkau mengajukan pertanyaan demikian kepadaku? Apakah aku tidak kasih
kepadamu? Pingkan... kepadamulah bergantung nyawaku, tidak ada suatu apa pun
yang lebih kukasihi di dunia ini melebihi engkau. Aku akan menuruti
kata-katamu, janganlah menangis lagi!"
Pingkan
bangun perlahan-lahan seraya membalas ciuman suaminya dengan manis, lalu
berkata: "Jiwaku telah selamat lagi kali ini!"
"Mengapa?"
"Ya...
karena engkau rupanya masih kasih kepada... Pingkan!"
"Sudah
kukatakan tadi, biarlah aku bekerja lebih berat lagi, asal engkau jangan pergi
membawa dirimu ke kubur. Tidakkah engkau mendengar hal beberapa orang nelayan
kemarin dulu, perahunya terbalik dihantam gelombang? Beruntung sekali semuanya
pandai berenang, jadi mereka sampai juga ke darat meskipun dengan beribu-ribu
kesukaran. Aku akan bersuka cita sekali apabila engkau mau menuruti perkataan
istrimu yang bebal ini."
"Jangan pula menuruti
perkataanmu yang semudah ini; walau kauseruh memindahkan Gunung Lokon, Klabat,
dan Soputan ke sebelah barat negeri Tanahwangko ini sekalipun, akan kukerjakan
juga."
Beberapa
hari kemudian dari peristiwa itu, Matindas merasa dirinya kurang segar, tetapi
tidak dikabarkannya kepada istrinya. Istrinya amat heran melihat keadaan
suaminya. Makannya berkurang dari biasa, bicaranya tidak bertenaga, sikapnya
tidak gagah lagi, dan mukanya makin lama makin kurus.
"Matindas,
apakah yang kurang padamu?" tanya Pingkan.
"Seluruh
badanku lemah."
"Apa
sebabnya?"
"Tidak
tahu."
"Tidak
adakah jenis tumbuh-tumbuhan yang bisa dibuat obat minum untuk mengelakkan
penyakitmu itu?" tanya Pingkan pula dengan khawatir.
"Aku
kurang tahu juga, jenis rumput mana yang boleh diambil," jawab Matindas.
Sementara
itu, muncul pikiran pada Matindas untuk membuat dua buah patung. Mula-mula
diambilnya kayu yang lembut untuk percobaan. Setelah dicobanya beberapa kali,
dilihatnya makin lama makin halus dan makin bagus buatannya. Maka pikirnya: "Baiklah
aku membuat patung Pingkan dan patung itu kubawa ke mana pun aku pergi. Kalau
patung itu jadi, kubuat pula sebuah patung yang mukanya sama persis dengan
mukaku; mudah-mudahan ada juga gunanya bagi istriku kelak."
Maka
dicarinya suatu jenis kayu yang baik, lalu mulailah ia mengerjakannya. Makin
telaten dikerjakannya, makin elok patung itu. Kira-kira tiga belas hari
kemudian, selesailah patung Pingkan. Semua orang yang melihat patung Pingkan
heran sebesar-besarnya karena keindahannya yang tiada tara.
"Wah!!" kata
orang-orang sambil menggeleng-gelengkan kepala, "pandai sekali Matindas
ini. Dari mana ia mendapat ilmu itu??"
"Itulah suatu karunia Tuhan
kepadanya," jawab yang lain. "Memang Matindas seorang yang sabar,
baik dalam berpikir maupun dalam pekerjaan. Hal itu sudah banyak kali terlihat
dalam pergaulan hidup kita dengannya. Pergilah lihat di bawah rumahnya, berapa
banyak pula patung yang dibuatnya untuk percobaan!"
Bab 3: Pantulan Embun dan
Keberangkatan
Maka Matindas pun mulailah pula
membuat patungnya sendiri. Setelah hampir selesai, ia berkata kepada istrinya:
"Lihatlah baik-baik, sudahikah muka patung ini sama dengan mukaku?"
"Belum!" jawab
istrinya. "Masih ada perbedaannya, yaitu hidung dan mata. Hidung patung
ini rupanya sedikit lebih mancung dari hidungmu dan matanya terlalu
kecil."
Maka bimbanglah Matindas
memikirkan bagaimana cara mengubah muka patung itu agar sama betul dengan
mukanya, sedangkan ia sendiri tidak mengenali betul bentuk mukanya. Dicarinya
berbagai cara untuk mengetahui bentuk muka dan hidungnya, tetapi sia-sia saja. Maka timbullah niat dalam hatinya
untuk membiarkan patungnya sebagaimana adanya saja.
Pada
suatu pagi, ketika ia membungkuk hendak menyiangi tanaman di sekeliling pondok
kebunnya, terlihat olehnya bayangan mukanya pada air embun yang terkumpul di
sehelai daun. Maka diselidikinya baik-baik mukanya—meskipun kurang begitu
terang—lalu pergilah ia meneruskan pekerjaannya yang terbengkalai itu. Tidak
lama kemudian selesailah patung tersebut. Betapa bahagianya hati kedua suami
istri itu tidak dapat diungkapkan lagi; hanya yang kita ketahui, selama dunia
ini dihuni manusia, barangkali belum ada satu rumah tangga pun yang
kebahagiaannya dapat menyamai puncak kebahagiaan rumah tangga Pingkan dan
Matindas.
"Miskin
badan, kaya hati,"
itulah peribahasa yang selalu diucapkan oleh kedua suami istri yang rendah hati
itu.
"Pingkan..."
kata Matindas, "aku tidak dapat berpisah denganmu, demikian juga
sebaliknya, engkau tidak mau jauh dariku. Tetapi dengarlah dahulu: penyakitku
ini tidak lain dari keinginan yang telah mencapai puncaknya untuk mengarungi
lautan. Sejak kecil aku hidup di air, dan sekarang tertahan bukan oleh
siapa-siapa, melainkan oleh cintaku kepadamu. Sekarang aku telah membuat dua
buah patung, sebuah untukmu dan sebuah lagi untukku selama kita berpisah. Aku
bermaksud tetap akan pergi ke laut; biarlah patungmu kubawa serta supaya engkau
selalu terasa ada di sisiku, dan patungku kutinggalkan padamu untuk menjadi
temanmu sepeninggalku... Senangkah hatimu?"
Pingkan
pun berpikir sejenak, lalu menjawab: "Baiklah."
Mendengar
perkataan itu, Matindas pun melompat dari tempat duduknya, mendatangi Pingkan,
lalu menciumnya seraya berkata: "Pingkan... napas kakanda! Kasih
kakanda telah bertambah berlipat ganda karena adinda mengabulkan permintaan
kakanda."
"Tetapi
janganlah pergi pada hari ini, karena hari ini rupanya tidak baik," kata
Pingkan.
"Tidak
mengapa," jawab Matindas sambil mencium bidadarinya lagi, "asal
adinda mengizinkan."
Kata
Pingkan pula: "Haruslah berhati-hati dan tangkas dalam sembarang
pekerjaan, supaya selamat pada akhirnya."
"Jangan
takut!" sahut Matindas sambil tertawa.
"Baiklah!"
jawab Pingkan.
Keesokan
harinya, sebelum matahari terbenam, Matindas pun menyiapkan obor dan
memperbaiki perahunya. Setelah siap semuanya, ia berkata kepada istrinya:
"Tinggallah engkau baik-baik, jangan khawatir, tenang-tenangkanlah
hatimu!"
"Kalau
kauhat suatu tanda hari buruk akan tiba, segeralah pulang!"
"Tentu
sekali; siapa yang mau berhadapan dengan musuh yang tak teralahkan."
"Nah,
kalau begitu berangkatlah!"
Setelah
mengambil patung Pingkan, pergi jua ia. Sementara mengayuh, hatinya
berdebar-debar seperti merasa ketakutan; oleh sebab itu ia menengok ke kiri, ke
kanan, dan ke atas, memeriksa kalau-kalau angin ribut hendak turun. Namun
dilihatnya langit bersih seperti disapu, sedikit pun tidak berawan; apalagi
bintang-bintang yang berjuta-juta banyaknya, rupanya tidak satu pun yang
bersembunyi, semuanya memancarkan cahayanya yang gilang-gemilang. Perasaan
takut di dalam hatinya pun hilang setelah melihat dan memeriksa keadaan alam
pada ketika itu.
"Jalan terus!"
perintahnya kepada diri sendiri sambil mengayuh sekuat-kuatnya menuju tempat
yang dirindukannya.
"Mustahil turun ribut pada
malam ini," katanya pula dalam hati, "malam terang benderang, belum
pernah kudapati begini sejak aku tahu mengarungi lautan."
Pada
saat itu juga terbayanglah muka istrinya di ruang matanya; dilihatnya sedang
menangis tanpa tahu apa sebabnya. Dalam penglihatan itu tampak olehnya Pingkan
memberi isyarat kepadanya agar tidak meneruskan pelayaran itu. "Apakah
gerangan maksudnya ini...?" pikirnya dalam hati. Ia termenung
memikirkan firasat penglihatannya itu, hingga tidak diketahunya pengayuhnya
telah terlepas dari tangannya. Beruntung pangkal kedua pendayungnya terikat
pada pinggir perahu. Akhirnya sadarlah ia dari kebimbangannya, lalu berkata:
"Sia-sia aku memikirkannya lebih jauh... Terus saja!"
Maka
sampailah ia ke tempat yang ditujunya. Baru kira-kira sepertanak nasi lamanya
ia di sana, tiba-tiba turunlah angin ribut yang sangat kencang. Dicarinya
berbagai cara untuk mengelakkan bahaya itu, tetapi sedikit pun tidak berguna;
perahunya menjadi laksana sabut kelapa yang menjadi permainan gelombang. Maka
hancurlah perahu itu dihantam ombak. Matindas memeluk bambu bekas cadik (semah-semah)
perahunya, lalu membiarkan dirinya terlempar ke sana kemari diombang-ambingkan
gelombang.
Ia
memejamkan matanya, tetapi pikirannya tidak bimbang; katanya: "Bagaimana
pun juga, aku tidak mau melepaskan bambu ini." Kemudian datanglah
sebuah gelombang besar yang melempar...
Bab
4: Penawanan oleh Bajak Laut Mindanao
...
melempar dirinya ke darat. "Aduhh!" serunya karena merasa tubuhnya
amat kesakitan, lalu ia pun pingsan.
Syahdan, tersebutlah beberapa
orang Mindanao pergi mengintai tawanan ke daerah tempat tersebut. Waktu angin
ribut hendak turun tadi, perahu mereka dikandaskan ke darat supaya tidak
terbawa gelombang. Setelah angin ribut reda, pergilah mereka mendapatkan perahunya
hendak pulang ke negerinya.
"Sial benar kita kali ini,
tidak mendapat tawanan seorang jua pun," kata seorang.
"Tadi pagi aku melihat orang
berjalan melalui hutan; tetapi mereka rombongan banyak, jadi amat sulit
diserang," kata yang seorang lagi.
"Sejak beberapa tahun ini,
orang-orang di sini makin waspada; tidak mau lagi berjalan berdua bertiga,
apalagi seorang diri," sahut yang lain pula sambil menggeleng-gelengkan
kepala.
"Baiklah kita ke Oewoeran
(sekarang dinamai Amurang) lagi!"
"Tidak
usah, nanti kali lain saja!"
"Ah,
aku telah bertaruh dengan kepala-kepala kampung kita bahwa aku pasti akan
mengantarkan kepada mereka seorang laki-laki yang kuat. Kalau kosong
begini, tentulah aku kalah."
"Ke mana lagi engkau hendak
mengintai?"
"...Manusia,
manusia!" teriak salah seorang sambil berlari menuju seorang laki-laki
yang terbaring di pasir. Maka berkerumunlah mereka sekalian mengelilingi orang
yang terbaring itu.
"Mayat barangkali."
"Belum
mati, lihatlah perutnya kembang kempis."
"Periksa
napasnya."
Seorang
meletakkan jarinya ke depan hidung orang itu, lalu berkata: "Masih hidup!
Masih hidup!"
"Mujur!"
"Tentu
ia pingsan terlempar oleh gelombang; lihatlah ia memeluk bambu bekas cadik
perahu."
"Kalau
begitu, baiklah kita lekas berangkat membawanya. Kalau ia nanti sadar, kita
sudah di tengah laut. Seret saja perahu kita ke mari," perintah kepala
rombongan mereka.
Maka
bertolaklah mereka. Setelah sejenak berlayar, mereka menimba air laut lalu
meneteskannya ke muka orang yang pingsan itu.
"Pingkan...!
Pingkan...!" kata orang itu tiba-tiba dengan suara yang amat lemah lembut
sambil bergerak hendak memutar badannya.
"Dengarlah,"
bisik seorang, "ia memanggil ibunya, atau saudaranya barangkali."
"Biarkan
saja ia bermimpi! Dalam sangkaannya ia ada di tempat tidur di dalam
rumahnya," kata penghulu orang Mindanao itu sambil tertawa-tawa,
"mustahil ia dapat melarikan diri lagi."
Tidak
lama kemudian orang itu pun membuka mata, lalu melihat ke kiri dan ke kanan,
memperhatikan di manakah ia berada pada saat itu. Setelah itu dipejamkannya
pula matanya karena mengira ia hanya bermimpi, jadi bimbanglah ia. Sementara
itu didengarnya orang berbisik-bisik, tetapi ia tidak mengerti apa yang
dibisikkan. Sebab itu terperanjatlah ia lalu hendak bangun.
"Aduh!"
teriaknya karena merasa punggungnya amat sakit. Ia memandang kepada orang-orang
yang ada di depan dan di belakangnya: "Wahai jiwaku! Aku telah jatuh ke
tangan musuh yang bengis," katanya dalam hati. "Atau
bermimpikah aku ini? Mudah-mudahan benarlah sangkaanku," sambil ia
mengangkat kepalanya pula, dan dilihatnya keadaan tetap sama seperti tadi.
Terasa pula olehnya bahwa ia berada di dalam perahu di tengah lautan besar.
Maka terkenanglah ia akan bahaya yang menimpanya tadi malam.
"Sesungguhnya
aku ini seperti si Lebai Malang. Lepas dari terkaman harimau,
jatuh ke dalam mulut buaya. Apakah akalku sekarang untuk melepaskan diri dari
tangan perompak ini? Berenang... tak mungkin. Lebih baik aku menyerahkan
nyawaku saja ke tangan Empung Walian yang menjadikan langit dan bumi... Aduh
istriku yang kukasihi!" katanya pula dalam hati. "Jikalau kiranya
suamimu mengetahui lebih dahulu apa maksud penglihatanmu kemarin, niscaya ia
tidak akan meneruskan pekerjaannya yang sial itu."
Maka ia pun merebahkan dirinya
yang amat lemah itu ke atas barang-barang rampasan; setelah itu ia tidak
bergerak-gerak lagi seperti orang mati.
Berapa lamanya berlayar, orang
Mindanao itu pun membangunkannya, mengujuknya makan ubi, sagu, dan
lain-lainnya; tetapi ia tidak mau makan karena menurut pikirannya lebih baik ia
mati saja daripada hidup dalam sengsara. Penghulu perompak itu pun bangun mendekatinya
lalu mengajak berbincang-bincang. Akan tetapi keduanya tidak dapat mengerti
bahasa masing-masing; maka penghulu itu memberi isyarat padanya untuk
menanyakan namanya. Matindas menunjuk kepada dirinya seraya berkata:
"Matindas!"
Matindas pun tergerak hatinya
hendak berinteraksi dengan penghulu itu. Maka pikirnya: "Pada suatu
saat kalian semua akan kutipu juga. Baiklah aku menaklukkan diri benar-benar
dahulu kepadamu, kutunjukkan bahwa aku ini perompak yang sebenar-benarnya.
Apabila kalian telah percaya betul kepadaku, tentu pada saat itulah waktu yang
baik bagiku untuk melarikan diri. Harus
berhasil...!"
Lalu ia pura-pura menggosok perutnya, memberi isyarat meminta makanan.
Maka
penghulu itu menyuruh mengeluarkan sisa makanan mereka lalu mengukurkannya
kepada Matindas. Meskipun Matindas tidak biasa dengan makanan yang dimasak
demikian, dipaksanya juga kerongkongannya menelan makanan itu agar ia selalu
kuat sehingga bisa meneruskan niatnya. Diisyaratkannya juga meminta obat untuk
mengurut punggungnya yang sakit itu.
Bab 5: Pelarian dan Jalan Pulang
Kira-kira enam hari enam malam
mereka berlayar, maka sampailah ke negeri orang Mindanao itu. Di sana Matindas
selalu menunjukkan kesetiaannya, baik dalam merompak Kepulauan Sangihe dan
Talaud (Sangi dan Talaoet) maupun ke mana saja. Terlebih pula dalam
perkelahian, sehingga ia selalu dipuji orang karena selalu mengalahkan
musuhnya. Di sana, orang-orang tawanan diadu seperti ayam sabung dengan memakai
pisau atau keris. Dari kiri dan kanan datanglah orang menawar Matindas, tetapi
tuannya sama sekali tidak mau menjualnya karena ia telah menjadi kaya oleh
taruhan yang diperoleh Matindas. Maka bertambah-tambahlah kasihnya kepada
Matindas dan sudah banyak kali ia dibiarkan bekerja seorang diri, tidak dijaga
lagi atau dimasukkan ke dalam kandang seperti babi. Orang yang gemuk tetapi
malas disembelih oleh mereka untuk dimakan.
Pada
suatu hari, tuannya dipanggil orang untuk dijamu. Hampir sekalian orang tua-tua
di dalam kampung itu dipanggil ke perjamuan tersebut. Maka tinggallah Matindas
di pondok bersama-sama dengan seorang perempuan tua. Tanya Matindas kepada
perempuan tua itu: "Ke manakah mereka pergi?"
"Pergi
ke perjamuan di kampung yang lain," jawab perempuan tua.
"Jauhkah
kampung itu dari sini?"
"Perjalanan
sehari dua malam."
"Sudah
saatnya!"
katanya dalam hati, "waktu inilah yang sangat kurindukan."
"Nenek!"
serunya kepada perempuan tua itu, "aku ingin ikut ke sana."
Jawab
perempuan itu: "Jangan, lebih baik engkau pergi mengambil kayu
bakar!"
Matindas
tidak berpikir panjang lagi; karena kegembiraannya, lalu ia menyahut:
"Baiklah!" Maka bekerjalah ia sekuat-kuatnya seharian itu, sehingga
perempuan tua itu sangat bersuka cita melihat kelakuannya. Pada malam itu,
setelah perempuan tua itu tidur, keluarlah Matindas perlahan-lahan, lalu
dibisikkannya kepada dua orang Siauk yang dikurung di dalam kandang:
"Marilah kalian keluar, ikutlah denganku!" sambil ia membuka pintu
kandang itu.
"Kami
takut!"
"Bodoh!
Ikut saja, tak usah takut! Sekarang kita lari," kata Matindas singkat
seraya memaksa mereka.
"Ke
mana?"
"Pulang
ke negeri kita."
"Perahu
kita tidak ada."
"Ada!"
"Jangan-jangan kita
menyusul/dikejar oleh mereka."
"Omong kosong. Kalau kalian
suka disembelih, tinggallah di sini!"
"Kami ikut."
Maka berjalanlah ketiganya
berburu-buru menuju ke pantai, ke tempat tuan mereka mengandaskan perahunya.
Tanpa mengeluarkan kata sepatah pun, ketiganya menyeret perahu itu ke air, lalu
naik.
"Kalian mengayuh, aku
memegang kemudi sebab aku yang mengetahui jalan yang harus kita ambil, supaya
kita tidak bertemu lagi dengan musuh yang lain. Makanan hanya cukup bagi kita
bertiga selama tiga hari, jadi harus kencang," perintah Matindas sambil ia
menengadah ke langit memperhatikan posisi bintang-bintang. "Kita harus ke
barat daya dahulu!"
Beruntung sekali ia tidak lupa
akan perjalanan bintang-bintang yang diajarkan oleh neneknya dahulu kepadanya,
serta yang diajarkan oleh penghulu perompak itu kepadanya selama ia ikut
merompak ke mana-mana. Sementara berlayar itu, Matindas tidak berhenti-hentinya
menghibur temannya, katanya: "Mustahil mereka dapat menyusul kita. Sampai
kini sudah empat hari lima malam kita berlayar, belum ada tanda-tanda pelayaran
kita terganggu. Hanya saja kita harus menghemat makanan; bagiku tak perlu makan
dua hari ini."
"Mengapa?"
"Aku merasa kuat, aku masih
sanggup bertahan dua hari lagi."
"Biarlah tidak makan lagi,
asal sudah dekat," kata seorang.
"Bagaimanakah hal kita
ini?" tanya Matindas kepada kedua temannya. "Kalian orang Siau, jadi
tidak jauh lagi; sedangkan aku orang Tanahwangko, masih jauh."
Maka berundinglah mereka;
akhirnya kedua orang Siau itu berkata: "Kami tidak mau lagi pulang ke
negeri kami; kami akan mengikutimu saja."
"Tidak kah kalian punya
orang tua?"
"Ibu bapakku meninggal
selagi aku kecil, jadi aku tidak mengenal bagaimana rupa mereka," kata
seorang dengan suara yang mengibakan hati.
"Ibuku sudah lama meninggal,
tetapi bapakku belum lama," kata yang seorang lagi.
"Sanak saudaramu?"
"Nanti lain kali kami
mengunjungi mereka, sekarang belum; baiklah kita meneruskan pelayaran ke
Tanahwangko saja!"
"Baiklah!" jawab
Matindas. "Makin kencang kita mengayuh, makin baik dan makin cepat
tercapai maksud kita."
Pada hari yang kedelapan waktu
pagi-pagi sekali, tampaklah puncak Gunung Klabat di sebelah tenggara, putih
diliputi awan; makin lama makin dekat. Maka terkenanglah pula Matindas akan
Pingkan, jantung hatinya; karena rindu itu, berkayuhlah ia sekuat-kuatnya
menuju tanah tumpah darahnya, yang tumbuh-tumbuhannya telah nyata kelihatan,
seolah-olah melambai-lambaikan tangannya memberi selamat datang kepadanja.
