MENGENANG BENCANA AIR BAH di TAMAKO,SANGIHE 600 TAHUN SILAM

 

MENGENANG BENCANA AIR BAH DAN ASAL-USUL KINABUHUSANG DI TAMAKO TUA PULAU  SANGIHE, 600  TAHUN  SILAM.

Oleh  ; Alffian  Walukow



Jauh sebelum rimak benteng dan jejak kaki bangsa Portugis menyentuh bumi Nusantara—pada kisaran kurun waktu tahun 1400-an—sebuah tragedi dahsyat terukir dalam memori kolektif masyarakat Tamako di Pulau Sangihe. Saat itu, pemukiman Tamako Tua berdiri tenang di pesisir, hingga suatu hari takdir kelam menghantam tanpa peringatan.

Suatu bencana besar berskala gergaji melanda kawasan tersebut melalui hadirnya fenomena bah kembar (dalulung). Dari arah lautan, gelombang pasang raksasa membumbung tinggi, menerjang dan menggulung pesisir tanpa ampun. Pada detik yang sama, dari hulu pegunungan, banjir bandang yang amat dahsyat meletup dan meluap hebat. Dua kekuatan alam ini bersatu, menghancurkan benteng pertahanan pemukiman Tamako Tua dan meluluhlantakkan kehidupan masyarakat di sana.

Gelombang raksasa dan curahan air bah yang luar biasa masif tersebut mengangkat armada perahu-perahu pantai, menyapu dan memindahkan mereka jauh melampaui garis pantai hingga terhempas ke daratan. Ketika air akhirnya surut, tersisa puing-puing kehancuran dan bukti bisu atas amukan alam tersebut.

Dari sekian perahu yang tersapu, terdapat satu rangka perahu kayu yang terdampar dan mengendap di daratan. Tempat di mana peristiwa pencurahan air bah dahsyat itu meninggalkan sisa bangkai perahu kemudian diabadikan oleh tuturan lisan (oras) masyarakat Tamako dengan nama Kinabuhusang. Hingga kini, narasi kelam tentang gelombang dalulung dan jejak rangka perahu di tanah Kinabuhusang tetap menjadi saksi bisu atas dahsyatnya peristiwa alam abad ke-15 yang membentuk warisan sejarah dan toponimi di Tamako.

Kajian Linguistik: Toponimi dan Analisis Morfologis Kinabuhusang

Penamaan Kinabuhusang bukan sekadar penanda geografis acak, melainkan sebuah bentuk toponimi berbasis peristiwa bencana (disaster-based toponymy) yang terekam secara presisi melalui tata bahasa Sangir.

1. Dekonstruksi Morfologis

Kata Kinabuhusang merupakan kata turunan (polimorfemis) kompleks yang dibentuk melalui kombinasi konfiksasi dan infiksasi pada akar kata bahasa Sangir:

  • Kata Dasar (Leksikal): buhus / buhusa

Mengandung makna dasar curah, tumpah, atau alir.

  • Konfiks Lokatif: ka- ... -ng (variasi dari -an)

Berfungsi membentuk nomina lokatif yang menandakan tempat/titik terjadinya suatu peristiwa.

  • Infiks Perfektif: -in-

Merupakan penanda aspek gramatikal untuk tindakan atau peristiwa yang telah terjadi/selesai di masa lampau (past/completed action).

Proses Pembentukan Kata:

Infiks -in- menyusup ke dalam prefiks ka- sehingga menjadi kina-. Secara harfiah, konstruksi gramatikal ini menghasilkan makna: "tempat/lokasi di mana air telah dicurahkan atau ditumpahkan secara masif pada masa lalu."

2. Distingsi Semantis: Dalulung vs. Kinabuhusang

Dalam tatanan leksikal bahasa Sangir, terdapat perbedaan mendasar antara kata yang menggambarkan proses bencana dengan dampak/lokasi bencana:

  • Dalulung (Dinamika & Daya Hancur):

Merujuk pada fenomena air bah, gelombang pasang, atau luapan raksasa yang bergerak menggulung dan menyapu kawasan luas. Kata ini menekankan pada skala volume yang ekstrem, fenomena gerakan air, dan daya hancurnya.

  • Kinabuhusang (Arah & Hasil Pencurahan):

Menekankan pada sifat tumpahan/curahan air yang dahsyat dari satu arah ke arah lain serta lokasi fisik tumpahan tersebut.

Dalam konteks sejarah Tamako Tua, dalulung adalah bencana gelombang dan banjir bandangnya, sedangkan kinabuhusang adalah titik daratan tempat tumpahan air bah tersebut bermuara dan mengendapkan sisa-sisa perahu yang tersapu.

 


 

 

Postingan populer dari blog ini

Kampung Tariang Baru,Tabukan Tengah, Pulau Sangihe, Rayakan HUT ke-133

DR. SUZANNE EMILIE HOUTMAN, Isteri Pertama dari Sam Ratulangie.

MASAMPER SANGIHE: DARI MEBAWALASE KE PENTAS LOMBA