PHILIP FREDERIK LAURENS SIGAR (KAKEK DARI PRABOWO SUBIANTO)
PHILIP FREDERIK LAURENS SIGAR (1885–1946)
Birokrat Hindia Belanda, Anggota Volksraad, dan
Kakek Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto
Philip
Frederik Laurens Sigar lahir di Langowan, Minahasa, pada 17 Mei 1885 dan
meninggal dunia di Belanda pada tahun 1946. Ia merupakan salah seorang birokrat
pribumi Minahasa yang berhasil mencapai kedudukan tinggi dalam struktur
pemerintahan sipil Hindia Belanda (Binnenlands Bestuur), sebuah pencapaian yang
pada masanya hanya dapat diraih oleh sedikit kalangan pribumi terdidik.
Kariernya yang cemerlang membawanya menduduki jabatan sebagai Gewestelijk
Secretaris Manado, anggota Gemeenteraad Manado, serta anggota Volksraad di
Batavia. Selain dikenang sebagai pejabat kolonial yang berpengaruh, Philip
Frederik Laurens Sigar juga memiliki tempat tersendiri dalam sejarah Indonesia
modern sebagai kakek dari Presiden Republik Indonesia, Prabowo Subianto.
Riwayat
hidup Philip Frederik Laurens Sigar tidak dapat dipisahkan dari sejarah panjang
keluarga Sigar di Minahasa. Sejak awal abad ke-19 keluarga ini telah dikenal
sebagai keluarga yang banyak melahirkan pemimpin adat, pejabat pemerintahan,
dan birokrat yang mengabdi dalam administrasi kolonial. Tradisi kepemimpinan
tersebut diwariskan dari generasi ke generasi hingga akhirnya melahirkan sosok
Philip Frederik Laurens Sigar sebagai salah satu birokrat Minahasa paling
berpengaruh pada awal abad ke-20.
Dokumentasi
visual mengenai Philip Frederik Laurens Sigar yang kini banyak digunakan dalam
berbagai publikasi sejarah merupakan adaptasi dari foto asli yang dimiliki oleh
Bode Grey Talumewo, seorang akademisi dan peneliti sejarah Minahasa yang selama
bertahun-tahun mengumpulkan arsip keluarga tokoh-tokoh Sulawesi Utara. Koleksi
tersebut menjadi salah satu sumber visual penting dalam pelestarian sejarah
keluarga Sigar.
Asal-Usul
Keluarga dan Koreksi Silsilah
Philip Frederik Laurens Sigar
merupakan putra dari Philip Roeland Sigar dan J. Alling. Ia dilahirkan di Langowan, wilayah
yang sejak lama menjadi salah satu pusat pemerintahan tradisional Minahasa.
Lingkungan keluarga tempat ia dibesarkan merupakan keluarga terpandang yang
telah lama berkecimpung dalam administrasi pemerintahan Hindia Belanda.
Selama
bertahun-tahun, sejumlah publikasi silsilah keluarga, terutama Stamboom
Zuur–Van Vuure, mencantumkan bahwa ibu Philip Frederik Laurens Sigar adalah
Theresia Petronella Adriana Alling. Namun, penelitian arsip kolonial yang
dilakukan oleh Adrianus Kojongian menunjukkan bahwa informasi tersebut tidak
sesuai dengan sumber primer.
Bukti paling kuat berasal dari
iklan dukacita yang dimuat dalam Bataviaasch Nieuwsblad tanggal 30
Agustus 1939. Dalam iklan tersebut Philip Frederik Laurens Sigar sendiri
mencantumkan bahwa ibunya adalah J. Alling, putri Frederik Jacobus Alling.
Temuan tersebut diperkuat oleh data dalam Almanak van Nederlandsch-Indië
yang menunjukkan bahwa Theresia Petronella Adriana Alling telah meninggal dunia
jauh sebelum tahun 1885 sehingga secara kronologis tidak mungkin menjadi ibu
kandung Philip Frederik Laurens Sigar.
Koreksi silsilah ini menjadi
salah satu contoh penting bagaimana penelitian sejarah harus berpijak pada
arsip primer, bukan semata-mata pada tradisi penyalinan silsilah yang telah
berlangsung selama bertahun-tahun.
Tradisi
Kepemimpinan Keluarga Sigar
Keluarga Sigar merupakan salah
satu keluarga Minahasa yang memiliki tradisi panjang dalam bidang pemerintahan
dan pelayanan publik. Selama lebih dari satu abad, keluarga ini melahirkan
tokoh-tokoh yang berperan dalam pemerintahan tradisional maupun birokrasi
kolonial.
Garis keturunan Philip Frederik
Laurens Sigar dapat dirunut sebagai berikut:
Benjamin Thomas
"Tawalijn" Sigar (±1790–1879)
Perwira Pasukan Tulungan (Hulptroepen) pada Perang Jawa (1825–1830)
⬇
Lourens Roeland Sigar
Hukum Besar (Mayor) Langowan (1870–1884)
⬇
Philip Roeland Sigar
Pegawai Administrasi Pemerintah Hindia Belanda
⬇
Philip Frederik Laurens Sigar
Gewestelijk Secretaris Manado dan Anggota Volksraad
Rangkaian
silsilah tersebut memperlihatkan kesinambungan tradisi kepemimpinan keluarga
Sigar dari masa pemerintahan tradisional Minahasa hingga administrasi modern
Hindia Belanda.
Benjamin
Thomas Sigar dan Perang Jawa
Salah
satu tokoh paling terkenal dalam keluarga ini ialah Benjamin Thomas
"Tawalijn" Sigar yang diperkirakan lahir sekitar tahun 1790 dan wafat
pada tahun 1879. Ia dikenal sebagai seorang perwira Pasukan Tulungan
(Hulptroepen), yaitu pasukan bantuan dari Minahasa yang dikirim pemerintah
kolonial Belanda untuk membantu operasi militer selama Perang Jawa (1825–1830).
Keikutsertaan
orang-orang Minahasa dalam Perang Jawa merupakan bagian dari kebijakan
pemerintah kolonial yang memanfaatkan pasukan dari luar Jawa untuk menghadapi
perlawanan Pangeran Diponegoro. Pasukan Tulungan terkenal karena disiplin dan
loyalitasnya sehingga sering ditempatkan dalam berbagai operasi militer
penting.
Dalam tradisi lisan keluarga
Sigar berkembang cerita bahwa Benjamin Thomas Sigar merupakan tokoh yang
menangkap Pangeran Diponegoro. Cerita tersebut telah diwariskan turun-temurun
dan menjadi bagian dari memori kolektif keluarga.
Namun demikian, berdasarkan
sumber-sumber sejarah kolonial yang tersedia hingga saat ini, penangkapan
Pangeran Diponegoro secara resmi dilakukan melalui operasi diplomasi dan
militer yang dipimpin Letnan Jenderal Hendrik Merkus de Kock di Magelang pada 28
Maret 1830. Hingga kini belum ditemukan arsip primer yang membuktikan bahwa
Benjamin Thomas Sigar merupakan penangkap langsung Pangeran Diponegoro. Oleh
sebab itu, informasi tersebut lebih tepat dipahami sebagai tradisi lisan
keluarga dan belum dapat dinyatakan sebagai fakta sejarah yang telah
terverifikasi.
Philip Roeland
Sigar: Sang Ayah
Ayah Philip Frederik Laurens
Sigar, yaitu Philip Roeland Sigar, merupakan pegawai administrasi Pemerintah
Hindia Belanda yang memiliki perjalanan karier cukup panjang. Ia memulai
pekerjaannya sebagai klerk di Kantor Residen Manado sebelum dipindahkan ke Oostkust
van Sumatra pada dekade 1870-an.
Setelah diberhentikan dari
jabatannya pada tahun 1873, ia kembali bekerja di Algemeene Secretarie di
Buitenzorg sekitar tahun 1878–1879. Arsip
kolonial juga mencatat keterlibatannya dalam berbagai urusan administrasi
pemerintahan di Gorontalo sekitar tahun 1885.
Pengalaman
panjang Philip Roeland Sigar dalam dunia administrasi kolonial memberikan
pengaruh besar terhadap pendidikan putranya. Lingkungan keluarga yang akrab
dengan tata pemerintahan, administrasi modern, serta bahasa Belanda membentuk
Philip Frederik Laurens Sigar menjadi pribadi yang siap memasuki birokrasi
kolonial.
Pendidikan
Philip
Frederik Laurens Sigar tumbuh dalam lingkungan keluarga elite Minahasa yang
sangat menghargai pendidikan Barat. Pada masa itu kesempatan memperoleh
pendidikan berbahasa Belanda masih sangat terbatas sehingga hanya kalangan
tertentu yang mampu mengaksesnya.
Walaupun
belum ditemukan dokumen primer yang secara pasti menyebutkan sekolah tempat ia
menempuh pendidikan, kemampuan administrasi, korespondensi resmi, penyusunan
laporan pemerintahan, serta penguasaan bahasa Belanda menunjukkan bahwa ia
memperoleh pendidikan formal yang tinggi menurut ukuran zamannya.
Hingga saat ini juga belum
ditemukan bukti primer yang memastikan bahwa Philip Frederik Laurens Sigar
merupakan lulusan OSVIA (Opleidingsschool voor Inlandsche Ambtenaren). Oleh
karena itu, klaim tersebut belum dapat dipastikan secara historis.
Karier dalam
Pemerintahan Hindia Belanda
Mengikuti jejak keluarganya,
Philip Frederik Laurens Sigar memasuki lingkungan Binnenlands Bestuur, yaitu
administrasi sipil Hindia Belanda.
Puncak kariernya dicapai ketika
menjabat sebagai Gewestelijk Secretaris Manado sekitar tahun 1922–1924.
Jabatan tersebut merupakan salah satu posisi tertinggi yang dapat diduduki oleh
seorang pejabat pribumi pada masa itu.
Sebagai Gewestelijk Secretaris,
ia bertanggung jawab membantu Residen dalam mengoordinasikan administrasi
pemerintahan, menyusun kebijakan administratif, mengawasi surat-menyurat resmi,
mengelola arsip pemerintahan, serta memastikan hubungan administratif antara
pemerintah pusat dan daerah berjalan dengan baik.
Kedudukannya menunjukkan
tingginya kepercayaan pemerintah kolonial terhadap kemampuan administrasi yang
dimilikinya.
Kiprah Politik
Selain berkarier sebagai
birokrat, Philip Frederik Laurens Sigar juga aktif dalam dunia politik
kolonial.
Ia pernah menjadi anggota Gemeenteraad
Manado, yaitu Dewan Kota Manado yang bertugas memberikan pertimbangan
mengenai pembangunan kota, pelayanan masyarakat, perpajakan daerah, hingga
pengelolaan fasilitas umum.
Karier politiknya kemudian
mencapai tingkat yang lebih tinggi ketika diangkat sebagai anggota Volksraad,
lembaga perwakilan rakyat Hindia Belanda yang berkedudukan di Batavia.
Walaupun kewenangan Volksraad
masih sangat terbatas di bawah pemerintah kolonial, keanggotaan Philip Frederik
Laurens Sigar menunjukkan bahwa ia termasuk dalam kelompok elite pribumi yang
dipercaya mewakili kepentingan masyarakat, khususnya masyarakat Minahasa dan
Sulawesi Utara.
Pernikahan dan
Keturunan
Philip Frederik Laurens Sigar
menikah dengan Cornelie Emilia Maengkom (1888–1946), putri Jan Eduard Maengkom
yang pernah menjabat sebagai Hukum Besar Kepala Distrik Tondano-Touliang.
Pernikahan
tersebut mempertemukan dua keluarga elite Minahasa yang memiliki tradisi
panjang dalam bidang pemerintahan.
Dari
pernikahan itu lahir tiga orang anak, yaitu:
- Roeland
Jan Philip Sigar (lahir di Tondano, 13 Februari 1910).
- Therese
Adriane Anthoniete Sigar (lahir di Manado, 16 Agustus 1913).
- Dora
Marie Sigar (lahir di Manado, 21 September 1921).
Anak
bungsunya, Dora Marie Sigar, melanjutkan pendidikan di Utrecht, Belanda, dan
kemudian menikah dengan Prof. Soemitro Djojohadikusumo, ekonom terkemuka
Indonesia sekaligus Menteri pada masa awal Republik Indonesia.
Dari
pasangan tersebut lahirlah Prabowo Subianto, Presiden Republik Indonesia, serta
Hashim Djojohadikusumo, pengusaha nasional.
Dengan
demikian, Philip Frederik Laurens Sigar menempati posisi penting dalam silsilah
keluarga Presiden Republik Indonesia Prabowo Subianto.
Akhir
Hayat
Menjelang
berakhirnya Perang Dunia II, Philip Frederik Laurens Sigar bersama istrinya
berada di Belanda. Keduanya meninggal dunia pada tahun 1946 dan dimakamkan di
kompleks pemakaman Oud Eik en Duinen di Den Haag, salah satu pemakaman
bersejarah yang menjadi tempat peristirahatan banyak tokoh Hindia Belanda.
Penutup
Philip
Frederik Laurens Sigar merupakan salah satu birokrat Minahasa paling menonjol
pada awal abad ke-20. Perjalanan hidupnya menggambarkan keberhasilan kaum
pribumi terdidik memasuki jajaran tertinggi administrasi Hindia Belanda di
tengah dominasi pejabat Eropa. Sebagai Gewestelijk Secretaris Manado, anggota
Gemeenteraad, dan anggota Volksraad, ia memainkan peranan penting dalam
penyelenggaraan pemerintahan kolonial di wilayah Sulawesi Utara.
Di sisi lain, riwayat hidupnya
juga memperlihatkan kesinambungan tradisi kepemimpinan keluarga Sigar yang
telah berlangsung sejak awal abad ke-19. Warisan tersebut tidak hanya tercermin
dalam kiprah para leluhurnya sebagai pemimpin dan pejabat pemerintahan, tetapi
juga berlanjut melalui keturunannya yang kemudian menjadi bagian penting dalam
sejarah Indonesia modern.
Sebagai kakek Presiden Republik
Indonesia Prabowo Subianto, Philip Frederik Laurens Sigar menjadi mata rantai
yang menghubungkan sejarah Minahasa, birokrasi kolonial Hindia Belanda, dan
perjalanan bangsa Indonesia menuju era kontemporer. Biografinya memperlihatkan
bahwa sejarah keluarga tidak hanya menjadi catatan genealogis, tetapi juga
bagian dari dinamika politik, pemerintahan, dan transformasi sosial Indonesia
selama lebih dari dua abad.
Daftar
Pustaka
- Almanak van Nederlandsch-Indië. Berbagai edisi. Batavia: Landsdrukkerij.
- Bataviaasch
Nieuwsblad. Edisi 30 Agustus 1939.
- De
Indische Courant. Berbagai edisi.
- Delpher.nl.
Arsip digital surat kabar dan publikasi kolonial Belanda.
- Java-Bode.
Berbagai edisi.
- Kojongian,
Adrianus. Penelusuran Arsip dan Silsilah Keluarga Sigar–Alling serta
Sejarah Benjamin Thomas Sigar.
- Regeerings-Almanak voor Nederlandsch-Indië. Berbagai edisi.
- Stamboom
Zuur–Van Vuure. Catatan silsilah keluarga kolonial Belanda.
- Walukow,
Alffian. BENJAMIN THOMAS SIGAR.jpg. Wikimedia Commons. Dokumentasi
visual Benjamin Thomas Sigar berdasarkan penelitian Adrianus Kojongian.
- Wikimedia
Commons. User: Alffian – Alffian Walukow. Dokumentasi
visual sejarah dan budaya Sulawesi Utara.



