PROF. DR. EMILIA AUGUSTINA RATULANGI. ANAK DARI SAM RATULANGI
MENGENAL PEREMPUAN MINAHASA: PROF.
DR. EMILIA AUGUSTINA RATULANGI.
ANAK DARI SAM
RATULANGI
Oleh ;
Alffian Walukow
Prof.
Dr. Emilia Augustina Ratulangi, yang akrab disapa Zus Ratulangi, adalah seorang
saksi sekaligus pelaku sejarah, politikus perintis, dokter spesialis anak, dan
profesor psikiatri lintas negara. Lahir pada era kolonial, ia mencatatkan diri
sebagai salah satu anggota parlemen perempuan termuda pertama di Indonesia pada
usia 24 tahun. Dedikasi intelektualnya membawanya ke Eropa, tempat ia menembus
puncak karier akademis sebagai profesor ahli jiwa di Universitas Amsterdam. Ia
menutup lembaran hidupnya yang panjang pada 15 Februari 2025 di usia 102 tahun.
Zus
Ratulangi dilahirkan di Bandung, Hindia Belanda, pada tanggal 23 Juli 1922. Ia
merupakan putri kedua dari tokoh pergerakan nasional terkemuka asal Minahasa,
Dr. Gerungan Saul Samuel Jacob (G.S.S.J.) "Sam" Ratulangi, dan
seorang perempuan berdarah campuran Eropa (Belanda-Prancis), Emilie Suzanne
Houtman (1890–1951). Saat Zus masih kanak-kanak sekitar tahun 1926, kedua orang
tuanya resmi bercerai. Hak asuh atas Zus dan kakak kandungnya, Corneille Jose
Albert "Ody" Ratulangi, jatuh sepenuhnya kepada sang ayah, Sam
Ratulangi. Pada tahun 1928, ayahnya menikah lagi dengan Maria Catharina
Josephine "Tjen" Tambajong. Tumbuh besar di bawah asuhan langsung Sam
Ratulangi, Zus dididik dalam iklim diskusi yang kritis, demokratis, dan sarat
akan nasionalisme. Sang ayah membentuk pribadinya menjadi sosok perempuan
mandiri yang tidak pernah bergantung atau "mengekor" pada nama besar
ayahnya.
Memasuki
era pendudukan Jepang di Indonesia, Zus memantapkan pilihannya untuk masuk ke
dunia kedokteran demi mengabdi pada kemanusiaan. Ia menempuh pendidikan
kedokteran di Ika Daigaku (Sekolah Tinggi Kedokteran era Jepang, kini Fakultas
Kedokteran Universitas Indonesia). Menjadi mahasiswi kedokteran perempuan pada
masa itu—terlebih dengan latar belakang Indo—merupakan hal yang sangat langka.
Bersama rekan-rekan kuliahnya seperti Jo Abdurachman, Janisa Anwar, Soetidja,
dan Zuleika Jasin, Zus terlibat langsung dalam aksi kemanusiaan merawat para
pekerja paksa (romusha) yang menderita kelaparan dan penyakit di kawasan Bayah,
Banten Selatan. Mereka bergerak di tengah keterbatasan obat-obatan dan
peralatan medis yang ekstrem. Karakter kritis Zus tergambar jelas pada Mei 1945
saat menghadiri kongres mahasiswa yang digelar oleh Sendenbu (Jawatan
Propaganda Jepang). Dalam sesi diskusi politik, argumen tajam Zus membuat
pimpinan propaganda Jepang, Shimizu, terkesima. Sebagaimana ditulis oleh Zus
dalam memoar pribadinya yang berjudul Aku Ingat, Shimizu pernah mengakui
ketajaman tersebut dengan berseloroh bahwa jika Nona Ratulangi ada di sana, ia
pasti kalah.
Pasca-Proklamasi
Kemerdekaan, Indonesia memasuki masa krusial revolusi fisik untuk
mempertahankan kedaulatan negara dari agresi militer Barat. Pada tahun 1946,
dalam usia 24 tahun, Zus ditunjuk langsung sebagai salah satu keterwakilan
golongan pemuda dari wilayah Sulawesi untuk duduk di Komite Nasional Indonesia
Pusat (KNIP), lembaga darurat yang menjadi cikal bakal Dewan Perwakilan Rakyat
(DPR-RI). Langkah ini mengukuhkan posisinya sebagai salah satu legislator
perempuan pertama sekaligus termuda dalam sejarah politik awal Republik
Indonesia. Ia membuktikan peran penting pemuda dan perempuan di meja diplomasi
parlemen.
Setelah
kedaulatan Indonesia diakui penuh pada akhir 1949 dan sang ayah wafat pada Juni
1949, Zus memutuskan bermigrasi ke Belanda untuk melanjutkan impian akademisnya
yang sempat terputus oleh perang. Di Belanda, melalui pergaulan sesama perantau
dan komunitas mahasiswa Indonesia, Zus bertemu dengan Wim Pangalila, seorang
pria asal Tondano, Minahasa, yang bekerja sebagai insinyur perkapalan (marine
engineer). Keduanya resmi menikah pada tahun 1954, dan nama suaminya
dilekatkan menjadi Prof. Dr. Emilia Augustina Pangalila-Ratulangi. Pernikahan
ini dikaruniai dua orang anak serta beberapa cucu. Zus menyelesaikan hambatan
penyetaraan ijazah dan menempuh studi doktoralnya di Universitas Utrecht (Universiteit
Utrecht) di bawah bimbingan akademis Prof. Rümke. Penelitian doktoralnya
berfokus pada integrasi ilmu kejiwaan (Psikiatri) dan kesehatan anak
(Pediatri). Zus kemudian mengambil spesialisasi Psikiatri Anak di
Universitas Leiden dan lulus pada tahun 1959. Dedikasi klinis dan risetnya di
bidang kesehatan mental diakui secara internasional hingga ia dikukuhkan
sebagai Profesor di bidang ilmu jiwa (psikiatri) di Universitas Amsterdam pada
tahun 1962.
Zus menghabiskan masa hidupnya
selama lebih dari tujuh dekade di Negeri Belanda. Kendati bertempat tinggal di
Eropa, ia tetap menjadi sosok pengayom yang dihormati bagi komunitas masyarakat
Minahasa/Sulawesi Utara (Kawanua) di luar negeri. Pada hari Sabtu, 15 Februari
2025, pukul 12.00 waktu setempat, Zus Ratulangi mengembuskan napas terakhirnya
dengan tenang di kediamannya di Soest, Belanda, dalam usia 102 tahun.
Berdasarkan keputusan keluarga, abu jenazah Zus Ratulangi direncanakan dibawa
kembali ke Indonesia untuk dimakamkan berdampingan dengan makam suaminya, Wim
Pangalila, di Tondano, Sulawesi Utara. Kepergian
Zus Ratulangi menandai hilangnya salah satu saksi hidup penandatanganan
lembaran sejarah Indonesia 1945. Ia meninggalkan legasi abadi bahwa batasan
gender dan usia muda bukan halangan untuk memimpin gerakan politik bangsa
sekaligus menembus puncak sains dunia.
Sumber
dan Daftar Pustaka
Sumber
Dokumen & Pengarsipan:
- Arsip
Komunitas Sejarah Indonesia Tempo Doeloe (Juni 2026). Lembaran Fakta
Sejarah Prof. Dr. Emilia Augustina Pangalila 'Zus' Ratulangi (1922-2025).
- Kementerian Komunikasi dan Digital RI. Sam
Ratulangi, Penyebar Informasi Kemerdekaan di Sulawesi. Museum
Penerangan Komdigi.
Daftar
Pustaka:
- Ratulangi, E. A. Aku Ingat. Catatan Sejarah Perjuangan
Mahasiswa Dokter Ika Daigaku.
- Redaksi
Historia. (Februari 2025). Jasa Zus Ratulangi. Historia.ID.
- Tim
Ensiklopedia. Zus Ratulangi. Wikipedia Bahasa Indonesia.
WIM PANGALILA
Dalam
panggung sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia di Sulawesi Utara, Peristiwa
Merah Putih 14 Februari 1946 di Manado kerap dicatat dan diingat sebagai aksi
pertempuran militer semata. Namun, di balik letupan senjata dan perebutan
kekuasaan fisik di Tangsi Teling, terdapat pemikiran strategis serta fondasi
taktis dari dua arsitek sipil, yaitu Wim Pangalila dan John Rahasia. Berada di
bawah garis komando dan arahan ideologis Gubernur Sulawesi Dr. G.S.S.J.
Ratulangi (Sam Ratulangi), Wim Pangalila bersama John Rahasia merancang
konsolidasi perlawanan sipil melalui Barisan Pemuda Nasional Indonesia (BPNI).
Misi utama yang diamanatkan Sam Ratulangi dari Makassar adalah membakar
semangat pemuda lokal dan menyusupkan sel-sel republikan ke dalam tubuh militer
Koninklijk Nederlandsch-Indisch Leger (KNIL) pribumi. Penulisan sejarah
nasional yang cenderung didominasi oleh historiografi militeristik dan
pertempuran lapangan pada akhirnya membuat peran vital mereka sebagai perancang
revolusi pemuda sering kali terpinggirkan.
Hubungan antar-tokoh dalam
jaringan pergerakan ini terikat kuat oleh faktor ideologis, garis komando
taktis, hingga ikatan kekeluargaan. Sam Ratulangi bertindak sebagai mentor
politik tertinggi yang mengutus Wim Pangalila, seorang insinyur perkapalan muda,
untuk kembali ke Manado guna mengoordinasikan gerakan pemuda. Kedekatan Wim
Pangalila dengan Sam Ratulangi kemudian semakin dipererat oleh jalur
kekeluargaan setelah Wim menikahi putri kandung pahlawan nasional tersebut,
yaitu Emilia Augustina Ratulangi (Zus Ratulangi). Di Manado, Wim Pangalila
bermitra dengan John Rahasia, seorang tokoh muda asal Kepulauan Sangihe yang
merupakan lulusan sekolah perwira pelayaran niaga Jepang (Koto Kaiin Yesyio)
di Parepare. John Rahasia memegang peran sebagai pelopor sekaligus Hulubalang
(Komandan) BPNI untuk wilayah Kotapraja Manado, menjadi rekan taktis terdekat
Wim Pangalila dalam merancang revolusi kemerdekaan di Sulawesi Utara.
Sebagai wadah perjuangan sipil
yang didirikan pada September 1945 oleh John Rahasia bersama Wim Pangalila, Mat
Kanon, Chris Pontoh, dan E.H.W. Palengkahu, BPNI mengoperasikan dua strategi
utama untuk mempertahankan kedaulatan Republik Indonesia. Strategi pertama
adalah meluncurkan propaganda melalui media massa tercetak dengan target
audiens yang spesifik, yaitu majalah Catapult ber bahasa Belanda untuk
menggalang simpati kaum intelektual, pamong praja, dan perwira KNIL pribumi,
serta majalah Suara Indonesia Moeda ber bahasa Indonesia untuk membakar
perlawanan masyarakat umum. Informasi peta politik dunia disuplai secara
rahasia oleh Sam Ratulangi dan Dr. Senduk yang menyadap siaran radio luar
negeri memanfaatkan pemancar sisa perhubungan Jepang. Strategi kedua adalah
pembentukan "Pasukan Tubruk", yaitu gerakan infiltrasi rahasia ke
dalam tangsi-tangsi KNIL untuk memengaruhi emosi nasionalisme prajurit pribumi
agar bersiap membangkang terhadap Belanda.
Meskipun secara historis
merupakan penggagas dan arsitek awal pemberontakan, Wim Pangalila dan John
Rahasia terhalang menjadi eksekutor langsung pada hari H. Skenario awal merebut
kekuasaan massal dari tangan Belanda (NICA) sebenarnya telah dirancang matang
untuk meletus pada upacara resmi tanggal 10 Januari 1946. Namun, sehari sebelum
aksi dieksekusi, yakni pada 9 Januari 1946, dinas intelijen Belanda (NEFIS)
berhasil mengendus rencana tersebut. Markas BPNI digeledah, dokumen pergerakan
dibakar, serta Wim Pangalila, John Rahasia, dan jajaran pimpinan BPNI ditangkap
dan ditahan. Meskipun dibebaskan dua minggu kemudian karena minimnya bukti
formal, gerak-gerik mereka berada di bawah pengawasan ketat intelijen selama 24
jam sehingga melumpuhkan kapasitas kepemimpinan sipil mereka di lapangan.
Estafet perjuangan bersenjata selanjutnya diambil alih oleh sayap militer di
dalam tangsi Teling yang dipimpin Letkol Ch. Ch. Taulu dan Sersan S.D. Wuisan,
yang akhirnya berhasil mengobarkan Peristiwa Merah Putih pada dini hari 14
Februari 1946. SINDOnews.com+ 2
Dalam
konteks sejarah Sulawesi Utara, perlu ditegaskan batasan struktur dan garis
waktu antara milisi BPNI (1945–1946) dengan Batalyon Worang (1950). John
Rahasia, Wim Pangalila, dan pendiri BPNI lainnya bukanlah anggota Batalyon
Worang. BPNI adalah perlawanan sipil lokal pasca-proklamasi, sedangkan Batalyon
Worang adalah kesatuan militer resmi TNI AD (APRIS) yang dibentuk di Pulau Jawa
di bawah pimpinan Mayor Hein Victor Worang. Perwira-perwira seperti Kapten D.J.
Somba (Yues Somba), Lettu Wim Tenges (yang kerap dikelirukan dengan Wim
Pangalila karena kesamaan nama depan), Lettu Utu Lalu, Lettu Andi Oddang, Kompi
Wuisan, Kompi John Ottay, serta Kapten Wim Yoseph (perwira asal Wiau Lapi,
Tareran yang menjabat Komandan Kompi Markas) merupakan murni daftar komandan
kompi struktural Batalyon Worang. Interaksi antara John Rahasia dan para
perwira Batalyon Worang baru terjadi pada tahun 1950 di Makassar, saat John
bertugas sebagai perwira Polisi Militer (Kapten CPM) di Markas Besar Militer
Indonesia Timur dan Batalyon Worang sedang transit menuju Manado.
Peminimalan
peran Wim Pangalila dan John Rahasia dalam catatan sejarah populer disebabkan
oleh beberapa faktor historiografi dan historis. Penulisan sejarah nasional
cenderung mengagungkan aksi pertempuran fisik langsung (action-centric)
dibandingkan fase perencanaan politik bawah tanah. Penangkapan oleh NEFIS pada
9 Januari 1946 menyebabkan nama Wim dan John tidak tercatat sebagai pemimpin
penyerbuan fisik di Tangsi Teling pada 14 Februari, ditambah lagi dengan
hilangnya dokumen primer BPNI akibat disita dan dibakar oleh Belanda.
Pasca-perang, Wim Pangalila memilih jalan hidup profesional sebagai insinyur
perkapalan dan menetap di Belanda bersama Zus Ratulangi, menjauh dari panggung
birokrasi politik dalam negeri. Adapun minimnya publikasi sejarah mengenai John
Rahasia murni dipengaruhi oleh faktor geografis pusat pertempuran di daratan
Minahasa/Manado serta keterbatasan arsip tertulis, dan bukan dikarenakan adanya
sentimen etnis antara masyarakat Minahasa dan Sangihe.
Sumber
dan Daftar Pustaka
Sumber
Dokumen & Pengarsipan:
- Arsip
Pemerintah Kota Manado. Catatan Sejarah dan Perjuangan Tokoh Merah
Putih 14 Februari 1946.
HobbyMiliter.com
- Dinas
Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Sulawesi Utara. Sejarah Perjuangan
Kemerdekaan di Sulawesi Utara 1945–1950.
Daftar
Pustaka:
- Lapian,
A.B., & Droogleever, P.J. (1992). Het TNI dan Peristiwa Merah Putih
di Manado 14 Februari 1946. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.
- Sales,
P. (1986). Sejarah Pergerakan Pemuda dan Peristiwa Merah Putih 14
Februari 1946 di Minahasa/Manado. Manado: Universitas Sam Ratulangi.
SINDOnews.com
- Ratulangi,
G.S.S.J. (1989). Indonesia di Pasifik: Analisa Masalah-Masalah Asia
Pasifik. Jakarta: Sinar Harapan.
- Taulu,
Ch. Ch. (1977). Pemberontakan 14 Februari 1946 di Manado. Jakarta:
Yayasan Kebudayaan Sulawesi Utara. Scribd+
1
- Worang, H.V. (1984). Batalyon Worang dalam Lintas
Sejarah Menegakkan NKRI. Jakarta:
Pustaka Mawas.

